Kemenangan Jokowi 'si Wong Solo' dan Ahok 'si minoritas' di Batavia, membuat sepak terjangnya menarik untuk diikuti. Entahlah saya merasa perlu untuk ikut memotret perjalanan Gubernur DKI Jakarta dan Wakilnya itu.
Jadi saya memutuskan untuk mendedikasikan satu label dalam blog ini dengan : "Jokowi-Ahok". Semoga Anda tidak keberatan jika postingannya hanyalah re-post dari berbagai media.
---
Seperti kita tahu, bahwa manusia merupakan mahluk yang unik dengan segala kelebihan dan kelurangannya. Namun bagi seorang pemimpin, tuntutan utama yang mereka hadapi adalah menjadi manusia sempurna tanpa boleh memiliki (menunjukkan) kekurangannya. Yea, terdengar mustahil, tapi begitu kenyataannya.
Begitu pula dengan Jokowi dan Ahok. Mereka hanya manusia biasa yang memiliki kekurangan. Setidaknya rumus ini harus kita pegang dahulu sebelum menilai seseorang. tapi tak salah jika kita menyampaikan pandangan dan pemikiran kita, siapa tahu ada yang bisa kita petik dari catatan Go Teng Shin pada Kompasiana hari ini. Semoga Anda dapat menyikapinya dengan bijak.
Hati-hati Jokowi, Kegagalan di Depan Mata.
ditulis oleh: Go Teng Shin
pada Kompasiana
Tidak ada yang
meminta Jokowi (dan Ahok) untuk jadi Bandung Bondowoso, yang sanggup membangun
99 patung dalam semalam. Tapi bagaimana bila ayam sudah hampir berkokok,
jangankan 99, satu patung pun belum jelas wujudnya…?
Berikut ini
adalah beberapa patung yang masih berbentuk lempung :
1.
Kampung Deret
Proyek yang selalu ditenteng Jokowi pada masa kampanye dulu adalah Kampung Deret atau Kampung Susun di bantaran kali. Pilot project di bantaran kali Ciliwung itu akhirnya mengalami naas : tidak jadi dibangun karena menabrak Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
Proyek yang selalu ditenteng Jokowi pada masa kampanye dulu adalah Kampung Deret atau Kampung Susun di bantaran kali. Pilot project di bantaran kali Ciliwung itu akhirnya mengalami naas : tidak jadi dibangun karena menabrak Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.
2.
Kartu Jakarta Sehat (KJS)
KJS, seperti yang dikabarkan memiliki kelebihan berupa rekam medis di chip kartu, persyaratan lebih mudah/tidak perlu surat miskin untuk memperolehnya serta menghapus strata kelas ruang perawatan dengan otomatis naik ke kelas lebih tinggi jika tidak tersedia tempat di kelas lebih rendah. Semua keunggulan itu ternyata tidak didukung oleh kesiapan dana, prasarana, SDM dan perubahan mentalitas pekerja kesehatan.
KJS, seperti yang dikabarkan memiliki kelebihan berupa rekam medis di chip kartu, persyaratan lebih mudah/tidak perlu surat miskin untuk memperolehnya serta menghapus strata kelas ruang perawatan dengan otomatis naik ke kelas lebih tinggi jika tidak tersedia tempat di kelas lebih rendah. Semua keunggulan itu ternyata tidak didukung oleh kesiapan dana, prasarana, SDM dan perubahan mentalitas pekerja kesehatan.
Lonjakan jumlah pasien sekitar 50-100%
sudah terasa sejak Nov 12 lalu, namun masih dipandang sebagai kesuksesan KJS
membangkitkan minat berobat masyarakat dan tersedianya pelayanan kesehatan
tanpa pandang bulu. KJS bahkan tidak dibutuhkan, banyak Puskesmas yang karena
takut dianggap tidak mendukung program Gubernur baru, atau mungkin takut
dimarahi Ahok, menerima pasien cukup dengan KTP. Akibat promosi kencang,
euphoria masyarakat tak terbendung. Yang datang bukan hanya yang benar-benar
sakit dan tidak mampu, tapi juga yang sakit tidak benar-benar serius dan tidak
benar-benar tidak mampu; sampai Puskesmas dan Rumah Sakit kewalahan.
Puskesmas sampai kelebihan beban dan
mendorong pasien ke RS, RS berteriak minta Puskesmas jangan asal rujuk. Belum
lagi lonjakan tagihan yang akibat masalah internal berupa macam-macam koreksi
di administrasi Pemda, sehingga beberapa RS mengalami kesulitan cashflow.
Puncaknya adalah peristiwa meninggalnya adik Dera, setelah ditolak 10 Rumah
Sakit dengan alasan ketiadaan NICU dan tempat perawatan.
3.
Ganjil-Genap dan Electronic Road Pricing (ERP)
Penanggulangan kemacetan dengan sistem Ganjil-Genap yang menjadi isu utama pada Dec 2012 lalu, akhirnya tidak jalan. Protes berdatangan dari mana-mana, termasuk dari Neta S. Pane/IPW, karena dianggap titipan ATPM dan merugikan pengguna kendaraan.
Penanggulangan kemacetan dengan sistem Ganjil-Genap yang menjadi isu utama pada Dec 2012 lalu, akhirnya tidak jalan. Protes berdatangan dari mana-mana, termasuk dari Neta S. Pane/IPW, karena dianggap titipan ATPM dan merugikan pengguna kendaraan.
Setelah Ganjil-genap batal, ERP diangkat.
Apabila tahun lalu Ahok bilang ERP rumit, sekarang ini menyimak pembicaraan
Ahok, seolah-olah pelaksanaan ERP itu gampang banget. Tinggal ditenderkan,
pembayaran bisa potong rekening, diintegrasikan dengan pembayaran tilang dan
perpanjangan STNK. Kalau mau tahu cara kerja sistem ERP itu, Ahok bilang tak
usah studi banding, tinggal tonton saja di Youtube. Apa benar semudah itu ?
Tampaknya ERP ini – maaf – akan seperti
kentut saja. Heboh sebentar setelah itu hilang dibawa angin. Banyak sekali
masalah ERP yang harus dijawab : bagaimana memastikan setiap unit mobil yang
masuk Jakarta/kawasan ERP memasang dan mengaktifkan OBU (On Board Unit),
apabila Jakarta ini banyak titik masuknya, bukan pulau dengan akses masuk
terkontrol seperti Singapura. Bagaimana billing dan collection, dan bagaimana enforcementnya…?
Solusi sambil-lalu yang dijawab Ahok : diskon 50% Biaya Balik Nama untuk pemasang
OBU, auto debet ke rekening, jelas bukan jawaban. Bagaimana dengan BPKB yang
sudah atas nama yang benar ? Berapa banyak yang bersedia untuk auto debet
rekening ? Di Jakarta ini, banyak pemilik dan pengguna kendaraan tidak sama
dengan nama di BPKB, siapa yang harus ditagih…?
4.
Monorail
Seperti diketahui, konsorsium pemodal baru Ortus Group sudah masuk ke PT Jakarta Monorail, tanda-tanda proyek ini akan diaktifkan lagi. Sampai saat ini, Jokowi berkeras bahwa biaya tiket monorail harus sekitar Rp 8.000 dan Pemprov tidak akan subsidi, sementara kabarnya hasil perhitungan investor ada di kisaran Rp 40.000. Selisih bukan sedikit, tapi 5x lipat. Jokowi ibarat menawar dengan sistem Mangga Dua di Sogo Dept Store, yang tidak akan ada titik temunya.
Seperti diketahui, konsorsium pemodal baru Ortus Group sudah masuk ke PT Jakarta Monorail, tanda-tanda proyek ini akan diaktifkan lagi. Sampai saat ini, Jokowi berkeras bahwa biaya tiket monorail harus sekitar Rp 8.000 dan Pemprov tidak akan subsidi, sementara kabarnya hasil perhitungan investor ada di kisaran Rp 40.000. Selisih bukan sedikit, tapi 5x lipat. Jokowi ibarat menawar dengan sistem Mangga Dua di Sogo Dept Store, yang tidak akan ada titik temunya.
5.
Rusun Marunda
Isu kosongnya rusun-rusun di Jakarta termasuk di Marunda yang acapkali disebut ‘berhantu’ sudah lama diungkit oleh DPRD sejak tahun 2011. Awalnya adem-adem saja dan tidak prioritas, tapi begitu Ahok mengalami masalah saat menempatkan korban banjir Pluit di rusun Marunda, tiba-tiba sang rusun jadi beken abis. Heboh sekali, sorotan media massa nyaris setiap hari. Ada kepala rusun langsung dipecat, ada koboi belitung dan ada pintu yang didobrak..pyar… Setelah dihadirkan segala macam gratisan mulai dari angkutan, kasur, perabot, TV, kulkas sampai pijit; kabarnya yang antri membludak. Mirip barisan di depan kasir supermarket kalau lagi ada cuci gudang.
Isu kosongnya rusun-rusun di Jakarta termasuk di Marunda yang acapkali disebut ‘berhantu’ sudah lama diungkit oleh DPRD sejak tahun 2011. Awalnya adem-adem saja dan tidak prioritas, tapi begitu Ahok mengalami masalah saat menempatkan korban banjir Pluit di rusun Marunda, tiba-tiba sang rusun jadi beken abis. Heboh sekali, sorotan media massa nyaris setiap hari. Ada kepala rusun langsung dipecat, ada koboi belitung dan ada pintu yang didobrak..pyar… Setelah dihadirkan segala macam gratisan mulai dari angkutan, kasur, perabot, TV, kulkas sampai pijit; kabarnya yang antri membludak. Mirip barisan di depan kasir supermarket kalau lagi ada cuci gudang.
Apabila anda menyempatkan diri ke rusun
Marunda, akan menjumpai 11 tower tersebut masih banyak sekali yang kosong,
menandakan ada masalah substansial yang masih harus dibenahi. Bahkan menurut
Kompas, ada penghuni rusun yang sudah kabur membawa TV dan kulkas. Pelanggaran
jual-beli rusun yang disebut Ahok juga kemungkinan adalah proses/makelar
subkontrak, karena mencari penyewa serius yang komitmen tinggal permanen dan
membayar tidak mudah. Masa sih ada yang mau membeli rusun yang sertifikatnya
milik Pemda ?
6.
Giant Sea Wall (GSW)
Baik Jokowi maupun Ahok sudah mengakui bahwa ini adalah proyek Foke, maka basisnya adalah studi yang dilakukan Jakarta Coastal Defense Strategy (JCDS). Dalam rilis JCDS, ada 3 opsi GSW, dan tampaknya yang dipromosikan Ahok adalah opsi ke 3, yang di dalamnya termasuk reklamasi 3.000 hektar. Karena biaya yang tercantum di JCDS sebesar US$ 21Milliar (setara Rp. 200 triliun ) digelembungkan Ahok menjadi Rp. 385 triliun, menunjukkan ambisi Ahok melebihi Foke. Ambisi itu juga ditunjukkan melalui keinginan untuk memajukan proyek ke tahun 2013 dari 2016 yang direncanakan. Padahal opsi 3, menurut JCDS, perencanaan dan persiapannya begitu kompleks, sehingga realisasinya antara 2020-2030.
Baik Jokowi maupun Ahok sudah mengakui bahwa ini adalah proyek Foke, maka basisnya adalah studi yang dilakukan Jakarta Coastal Defense Strategy (JCDS). Dalam rilis JCDS, ada 3 opsi GSW, dan tampaknya yang dipromosikan Ahok adalah opsi ke 3, yang di dalamnya termasuk reklamasi 3.000 hektar. Karena biaya yang tercantum di JCDS sebesar US$ 21Milliar (setara Rp. 200 triliun ) digelembungkan Ahok menjadi Rp. 385 triliun, menunjukkan ambisi Ahok melebihi Foke. Ambisi itu juga ditunjukkan melalui keinginan untuk memajukan proyek ke tahun 2013 dari 2016 yang direncanakan. Padahal opsi 3, menurut JCDS, perencanaan dan persiapannya begitu kompleks, sehingga realisasinya antara 2020-2030.
Dalam rencana Foke, GSW dibiayai melalui
pinjaman luar negeri, hibah, partisipasi masyarakat melalui obligasi, APBD dan
dunia usaha. Sementara Ahok ingin 100% GSW itu dibiayai oleh investor, yang
disebutnya ‘cukong’; dengan imbalan izin reklamasi di Pantura Jakarta berupa 17
pulau. Jika Foke masih punya etiket, malu menyebut reklamasi, urat malu Ahok
tampaknya sudah putus dengan tanpa ragu menyebut reklamasi sebagai penyelamat.
Sekilas Ahok terlihat pintar, warga DKI
bisa dapat GSW gratis. Tapi apabila disimak lebih dalam, sebenarnya opsi Foke
lebih aman sebab melibatkan pihak luar negeri dan masyarakat, yang menuntut
transparansi, prospektus setebal bantal dan AMDAL yang jelas. Sementara Ahok
menyerahkan nasib pantura DKI ke tangan cukong. Apakah rakyat dan para pengamat
akan mendapatkan penjelasan maupun dapat mengawal reklamasi dan efeknya
terhadap hajat-hidup mereka ? Wallahualam. Paling juga terus berjalan tanpa kendali
seperti reklamasi yang sekarang ini, yang disebut Departemen Lingkungan Hidup
merupakan penyebab banjir di DKI dan amblesnya tanah di Pantura.
Jika dipikirkan secara logika, akan
didapat dari mana tanah dan pasir untuk urukan 17 pulau itu ? Apabila disebut
dari galian waduk dan sungai di Jakarta, apa mungkin ? Coba lihat peta DKI di
Perda RTRW 2010-2030, berapa besar waduk, sungai, dan berapa besar rencana
reklamasi…? Apakah sebagian pulau Pulau Belitung mau dipindahkan untuk
membangun 3.000 hektar plus ini ? Atau, apakah ini proyek heboh-hebohan yang
hanya akan berakhir senyap seperti yang lainnya …?
Ahok : Achilles
Heel Jokowi
Setiap kali Ahok buka mulut di depan wartawan, nyaris tiap kali itu pula menyinggung pihak lain. Memang di dunia ini ada orang yang merasa perlu mengangkat diri dengan menjatuhkan/mempermalukan orang lain. Dulu kita tak pernah dengar suara Wagub DKI, sekarang Wagub DKI sibuk tebar pesona menyaingi bossnya.
Setiap kali Ahok buka mulut di depan wartawan, nyaris tiap kali itu pula menyinggung pihak lain. Memang di dunia ini ada orang yang merasa perlu mengangkat diri dengan menjatuhkan/mempermalukan orang lain. Dulu kita tak pernah dengar suara Wagub DKI, sekarang Wagub DKI sibuk tebar pesona menyaingi bossnya.
Belum lama
dilantik, dalam wawancara Gatra
Oktober 2011 lalu, Ahok mengatakan Pemprov (Ahok) harus jadi tuan di atas
cukong. Entah apa yang dipikirkan para cukong saat mendengarnya. Kalimat yang
gagah sekali, baik untuk pencitraan namun tak ada gunanya di hidup nyata. Sebab
cukong yang dimaksud, sudah jago berbisnis saat Ahok masih bercelana kodok.
Boro-boro Ahok mencabut izin cukong apabila menolak bangun GSW, ternyata Ahok
harus jual izin reklamasi 17 pulau untuk imbalan GSW gratis. Belum apa-apa Ahok
harus pasang badan bagi cukong untuk urusan AMDAL. Tragis, Ahok akhirnya hanya
jadi salesman cukong.
Sikap Ahok
menantang debat soal AMDAL, apabila dilihat dari sejarah panjang perseteruan
Kementerian Lingkungan Hidup dan pengusaha soal reklamasi, menyakitkan hati
bagi Walhi dan para aktivis lingkungan. PDI-P pasti ingat, Keputusan Menteri LH
itu, dibuat pada zaman ibu Megawati. Nabil Makarim adalah salah satu menteri
kesayangannya.
Apabila Jokowi
selalu berusaha membangun hubungan baik dan santun terhadap berbagai pihak,
semua itu dengan mudah dibuyarkan oleh Ahok. Selain doyan memarahi anak
buahnya, seperti mengancam memecat Lurah apabila ada warga meninggal saat
banjir, gara-gara meninggalnya seorang kakek yang memang sudah sakit saat
banjir di Kampung Pulo. Menghadapi Kepsek yang mengingatkan bahwa pemotongan
anggaran bisa menurunkan mutu siswa, malah disergah, supaya siswa super wahid –
ente butuh berapa triliun…?
Ahok belum lama
ini, tanggal 17 Feb di Tempo.co, sudah mulai lancang menyebut atasannya ‘kurang
galak’ sambil mengangkat diri dan nyalinya yang berani memecat siapa saja,
kapan saja, dan bahkan siap diPTUNkan.
Pada saat
banjir Pluit, ketika ditanya wartawan dimana keberadaannya sejak 3 hari yang
lalu, dengan seenaknya Ahok nyeletuk soal ‘pulang ke Belitung’. Tidak puas
dengan vendor pengelolaan sampah, malah keluarkan ide asbun seperti menggaji
2000 pemulung Rp 2 juta per orang untuk mengangkat sampah Jakarta. Karena asal
bunyi, ya kini tak ada kabarnya lagi.
Lebih dari
sekali Ahok menyinggung kepolisian. Soal plat mobil, misalnya, Ahok
menginsinuasikan mengenai penjualan plat mobil DKI 2 ke swasta, padahal menurut
kabar plat tersebut sudah sejak lama dipegang Foke. Untuk urusan ERP, yang
jelas tidak akan berhasil tanpa kerja-sama dari Polda Metro Jaya; Ahok
mengeluarkan lecehan ‘prit jigo prit gocap’. Tingkah laku negatif Kepolisian
harusnya yang menegur adalah atasannya. Ahok adalah kolega, pihak yang
memerlukan kerja-sama. Apa jaminannya cara komunikasi tersebut tidak membuat Ahok
justru dialienasi sementara banyak proyek Pemprov DKI yang perlu didukung
kepolisian…?
Untuk urusan
ERP itu pula, Ahok sempat-sempatnya menyentil soal ‘studi banding’ – apakah ini
yang dituju adalah DPRD…? Ahok bahkan menggampangkan bahwa sistem tersebut
cukup dilihat di Youtube !
Tanggal 19 Feb
kemarin, saat sedang berbicara mengenai KJS di RS Husada, Ahok bahkan
menginsinuasikan ‘perut, otak dan dompet’ lebih penting daripada ahlak.
Meskipun ahlak bukan cuma soal agama, tapi juga lingkungan, upbringing; Ahok
nyasar kemana-mana soal semua pejabat yang disebutnya munafik soal pelaporan
harta kekayaan, soal agama dan politik bahkan tak masalah dianggap kafir no. 1.
Juga menegaskan negara ini tak bisa dipimpin baik-baik, harus diajak berantem.
http://news.liputan6.com/read/516624/kesampingkan-akhlak-pejabat-ahok-silakan-cap-saya-kafir-nomor-1
Peristiwa
terakhir ini menunjukkan secara kasat mata beda antara Jokowi dan Ahok. Apabila
Jokowi adalah negosiator, fasilitator dan mengutamakan komunikasi; semua itu
rupanya dianggap ‘kurang galak’ oleh Ahok yang siap berantem dengan siapa saja.
Membangun kepercayaan itu tidak mudah, Jokowi bekerja keras tidak sehari-dua,
tapi panas setahun usaha Jokowi bisa dihapus hujan sehari komentar tak sedap
dari Ahok.
Duh, capenya
jadi Jokowi.
Masih Banyak Waktu
Alangkah
sedihnya apabila pemerintahan Jokowi berlalu tanpa greget. Proyek-proyek pada
GARING, nyaring bunyinya tapi tak ada yang berjalan baik. Karena kurang
perencanaan, kurang koordinasi, kurang dukungan. Over-expose. Sedikit-sedikit
diblow-up ke wartawan; padahal bicara pada regulator, pengambil-keputusan dan
pihak terkait juga belum. Peraturan yang ada tidak dicek dulu apakah benturan
atau tidak. Makin banyak proyek diheboh-hebohkan, lalu tak terwujud, akan makin
banyak muncul kata GAGAL. Ini gagal itu gagal. Jokowi juga bisa gagal nyapres
2019.
Dua pemimpin
asyik bicara, pasti akhirnya banyak keselip lidah. Nanti dibuat sensasi oleh
media, timbul blunder yang bikin bingung rakyat. Dua pimpinan seperti dua kutub
: yang satu hendak merangkul, yang satu sibuk mengalienasi. Yang satu sibuk
nyari teman, yang satu nyari musuh. Yang satu mencari titik temu, yang satu
ngajak berantem. Yang satu santun, yang satu menyakitkan dalam bertutur. Don’t
be cruel. Pemimpin santun bukan berarti lemah, sopan bukan berarti tak
tegas. Be kind.
Mumpung masih
ada 4 tahun 8 bulan, sebaiknya Jokowi segera berbenah diri. Jokowi perlu
mengurangi 2 hal : 1. Kurangi blusukan, dan 2. Kurangi bicara pada wartawan.
Proyek-proyek dimatangkan dulu, kalau perlu sosialisasi baru bicara pada
wartawan.
Jokowi juga
perlu menambah 2 hal : 1. Menambah waktu di kantor untuk memimpin rapat dan
membaca laporan, dan 2. Menambah pengawasan terhadap Ahok, beri pendidikan budi
pekerti. Ahok disuruh membaca kitab Raja-raja China Zhu Yuan-Zhang atau Liu
Bang : berantem saat perang, memimpin dalam damai. Kolega dan anak buah bukan
musuh, tak perlu bicara seolah-olah tiap orang malas, maling, atau dua-duanya.
Tak ada yang bisa sukses dengan menciptakan musuh dimana-mana. Heran ya, Jokowi
lebih mengerti ‘guanxi’ ketimbang Ahok yang Tionghoa !
Sebaiknya satu
orang saja yang bicara : Jokowi. Yang lain, hanya pembantu Jokowi, jadi harap
tahu tempatnya. Jujur, DKI masih perlu pemimpin seperti Jokowi yang humble,
jujur dan kerja untuk rakyat. Seperti Jabar butuh Rieke & Teten. Semoga
PATEN menang di Jabar, sehingga koordinasi DKI-Jabar untuk mengatasi banjir,
transportasi dan hal-hal lainnya semakin lancar.
GTS 69
Jakarta, 21
Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar Anda.
Salam hangat,
Icha