Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

5 soft skill yang harus dikuasai untuk menjadi sukses yang berkualitas


Agar bisa melesat dalam karir, Anda membutuhkan lebih daripada kualifikasi teknis. Anda membutuhkan soft skill untuk menunjang kualifikasi teknis yang anda miliki. Sayangnya soft skill adalah pembelajaran subjektif, yang hanya bisa dilatih jika anda memiliki jiwa yang terbuka. Karena penilainya bukan institusi resmi yang akan memberikan sertifikat pada anda, tapi orang-orang yang berada disekitar andalah yang akan memberi kreditnya. Dan mereka itulah yang akan mengantarkan anda kepada kesuksesan.

Mengetahui 5 Soft Skill yang Utama dalam Mencapai Kesuksesan
Bagi Anda yang sudah bekerja, pasti menyadari bahwa apa yang Anda lakukan dalam pekerjaan , bukanlah apa yang Anda pelajari di bangku sekolah. Sekolah hanya memberi jalan bagi Anda untuk memasuki pekerjaan, karena Anda memegang ijazahnya. Ijazah itu  adalah bukti kualifikasi teknis yang  Anda miliki sebagai syarat bekerja.

Saya tidak bilang, kalau apa yang di pelajari di sekolah tidak berguna bagi anda, Namun apakah anda menyadari bahwa setelah memasuki dunia kerja, ada hal yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Apakah itu? Soft skill!

Anda mau tahu soft skill apa saja yang mutlak anda miliki untuk kesuksesan anda dalam pekerjaan?

1.       Keterampilan berkomunikasi.
Soft skill yang satu ini  menduduki posisi teratas, karena anda tidak akan mungin berhasil tanpa memiliki kemampuan ini. Dalam pekerjaan anda tidak mungkin sendirian. Kemungkinan besar anda akan berada disebuah tim dimana anda dituntut untuk mampu mengutarakan pandangan-pandangan anda.  Anda tidak mungkin menuntut orang lain untuk bisa membaca pikiran anda.  Anda tidak harus menjadi orator atau penulis yang brilian, untuk bisa disebut berkemampuan komunikasi. Cukup menguasai tekhnik dalam menyampaikan isi pikiran anda secara verbal dan tulisan secara jelas dan efektif.

2.        Bisa Bekerja Dalam Teamwork dan Berkolaborasi
Setiap pengusaha ingin semua staf-nya bisa bermain secara efektif sebagai bagian dari tim. "Itu berarti kadang-kadang menjadi pemimpin, kadang-kadang menjadi pengikut, pemantau, pekerja”.  Kemampuan menjadi bagian manapun dari tim adalah modal utama dalam mencapai tujuan bersama. Orang yang tidak bisa bekerja dalam tim, justru akan jadi sumber masalah.

3.       Cepat Beradaptasi
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan adalah soft skill yang penting. Dimana, seiring waktu organisasi bisa saja melakukan upaya-upaya perubahan. Mampu beradaptasi mencakup, juga, keinginan untuk tumbuh dan mengembangkan kapasitas teknis, sesuai yang dibutuhkan organisasi.

4.       Mampu Memecahkan Masalah
Walau tidak semua staf memiliki hak untuk memecahkan masalah organisasi, bukan berarti anda tidak bisa menjadi si pemecah masalah. Anda bisa berlatih untuk memecahkan masalah sejak anda mulai bekerja. Jangan takut kalau yang anda lakukan tidak mendapat tanggapan yang baik. Bila solusi anda benar-benar berguna, sekeliling anda pun akan mengikutinya. Dan mereka tahu bahwa anda adalah bagian dari solusi.

5.       Mampu Meresolusi Konflik
Soft skill yang satu ini sangat berkaitan erat dengan soft skill yang pertama dan keempat: kemampuan berkomunikasi dan memecahkan masalahnya. Untuk bisa menguasai soft skill ini, anda harus memiliki jiwa yang bijak, pandangan yang objektif dan kepribadian yang bisa dipercaya.  Tidak ada orang yang ingin dibantu masalahnya oleh orang yang culas dan egois kan?

Bagaimana, sepertinya sulit ya?
Ya, memang sulit!
Tapi coba anda bayangkan saat anda duduk di SD, menghapal perkalian sulit juga bukan. Namun tak lama setelah anda berlatih, angka-angka itu sudah memenuhi kepala, sehingga anda tidak perlu menggunakan jari lagi untuk menjawab soal-sola perkalian guru.

Saya berharap anda dan saya pun bisa se’hebat’ itu akan soft skill yang saya utarakan diatas.
Hanya 1 kuncinya: berlatih!
“Sukses”, kami datang!

Marisa Wajdi!!!

Minggu, 20 Januari 2013

Kunci Sukses Starbuck


Starbucks awalnya hanya toko kecil pengecer biji kopi yang telah disangrai. Gairah Jerry Baldwin dan Gordon Bowker,  pendiri Starbucks, terhadap kopi-kopi berkualitas membuat Howard Schultz tertarik. Ia pun ikut  bergabung ke dalam Starbucks. Pengalaman yang dimilikinya sebagai General Manager di Hammarplast membuat Schultz berusaha memperbaiki keadaan Starbucks dan  melakukan pembaruan. Namun, tidak semua orang bersedia untuk berubah. Apalagi untuk sesuatu hal yang baru dan belum pernah mereka lakoni.

Schultz, suatu hari datang dengan ide, mengganti Starbucks dari toko penjual biji kopi, menjadi bar espresso bergaya Italia. Saat itu Starbucks tengah berada dalam lilitan hutang. Para pemilik lainnya keberatan dengan ide Schultz tersebut. Ketidak pastian adalah pilihan terakhir yang akan mereka ambil dalam keadaan seperti itu.

Rupanya, penolakan rekan-rekannya dalam Starbucks tak menyurutkan keyakinannya akan konsep bar espresso. Lalu ia mencari investor untuk mencari dana. Ia tak mau mengulangi kesalahan Starbucks yang berhutang untuk mendanai usahanya. Usaha Schultz tidaklah mudah. Dari 242 orang yang ditemuinya, 212 orang menolaknya, melecehkannya dan menganggapnya gila.

“Gila!  Satu setengah dolar hanya untuk secangkir kopi? Orang Amerika tidak akan mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk secangkir kopi.” Begitulah kira-kira tanggapan orang-orang yang ditemuinya. Untungnya Schultz tidak berhenti percaya pada intuisinya. Hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan dana yang bisa ia gunakan untuk membeli Starbucks.

Masalah ternyata tidak berhenti sampai disitu. Tidak hanya pendiri Starbucks yang tidak siap dengan perubahan, bahkan para karyawannya pun demikian. Mereka menghadapi perubahan dengan sikap sinis dan curiga.

Ternyata Scultz cukup matang dalam merencanakan perubahan Starbucks. Ia merangkul para karyawan dengan kekeluargaan. Bahkan Schultz percaya ‘sense of belonging ‘ dari pada karyawannya akan menjadi landasan kuat bagi keberhasilan Starbucks, maka Schultz pun menawarkan opsi saham bagi karyawan-karyawannya. Semua orang menjadi giat bekerja, tidak hanya Schultz dan para investor yang ingin Starbucks maju, tapi juga para karyawannya. 

Merubah Starbucks tidak hanya sekadar merubah komoditas yang dijual, tapi juga merubah hubungan antara penjual dan pembeli.  Alih-alih hanya menawarkan secangkir kopi , Starbucks juga menawarkan suasana yang hangat dan nyaman.  Itulah yang membuat orang tak ragu berkumpul di Starbucks, walau harga kopinya relatif lebih mahal dibandingkan bar espresso lainnya. Dalam buku biografinya, Schultz membuka  kunci kesuksesannya  yaitu : Pour Your Heart Into It.

 Cintai pekerjaanmu.

*me note:
Saya pernah membaca buku Dee, "Filosofi Kopi"
Apakah Dee terinspirasi oleh Jerry  Baldwin dan Gordon Bowker?
Dua pemuda yang penuh gairah dalam seni pembuatan kopi.
Kalau memang demikian, saya kira tak heran jika keduanya tidak setuju dengan perubahan Schultz.

Terutama Bowker, yang ia cintai adalah proses mendapatkan biji kopi berkualitas.
Sedangkan Schultz, berkonsentrasi bagaimana kopi itu disuguhkan.

Pour it into your heart, pour your heart into it.
   


Sabtu, 19 Januari 2013

Apa yang Kita Kira Baik Buat Kita, Belum Tentu Hal Terbaik yang Bisa Kita Dapatkan


Kisah seorang yang ditolak bekerja di Microsoft.

Suatu hari seorang pemuda melakukan wawancara di perusahaan Microsoft. Ia berhasil menunjukkan kecakapan kerjanya di depan para pengetesnya .

 “Ok kalau begitu saya akan memasukkan Anda ke dalam data base kami dan bisa mulai kerja secepatnya. Bisa tolong berikan saya alamat e-mail Anda?”

“Saya tidak punya komputer Pak, apalagi e-mail.”

HRD menarik nafasnya lemas. “Bagaimana mungkin Anda melamar ke perusahaan komputer, sementara Anda tidak mempunyai e-mail. Maaf, Anda tidak bisa kami terima.”

Pemuda itu pun keluar dengan langkah gontai. Uang yang disakunya hanya $ 10, tidak akan cukup untuk hidup sampai dia menemukan pekerjaan lainnya. Lalu ia menggunakan uangnya itu untuk membeli 10 kg tomat. Tomat itu ia jajakan dengan cara berkeliling. Dalam dua jam dagangannya habis dan dia berhasil melipatgandakan uangnya. Lalu dia membeli tomat lagi-menjualnya lagi, sampai 3 kali. Kali ini ia bisa pulang dengan membawa uang sebanyak $ 60. Keesokan harinya ia mengulangi lagi berjualan tomat. Terus begitu sampai dia mampu membeli mobil, lalu membeli truk, lalu berhasil membangun bisnis retail yang besar.

5 tahun kemudian , di saat ekonominya semakin mapan, ia memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa. Ia memilih agen asuransi jiwa yang terbaik menurutnya. Setelah menyelesaikan segala sesuatunya, si agen bertanya, “boleh saya minta alamat e-mail Anda, Pak?”  
“Saya tidak punya e-mail?”

Agen itu mengerutkan keningnya, “tanpa memiliki e-mail Anda mampu membangun  perusahaan retail yang begitu besar. Dapatkan Anda bayangkan apa yang terjadi jika  Anda memiliki e-mail?”

Pria itu berpikir sejenak, sesungging senyum tersirat di ujung mulutnya. “Saya mungkin masih menjadi office boy di Microsoft.”


“Kita berjuang lebih keras untuk menjadi karyawan rendahan di suatu perusahaan bergengsi
Tapi
Kehilangan tenaga, akal dan pikiran untuk menjadi orang nomor satu di perusahaan kita sendiri.”
Me

Perbedaan Orang Optimis dan Orang Pesimis


Tak ada masalah di kalangan umat manusia yang tidak dapat dipecahkan.” (Ralph Bunche)

Orang yang pesimis memandang dunia ini sebagai penderitaan dan timbunan masalah. Sebaliknya orang yang optimis memandang hidup ini sebagai tempat yang penuh kesempatan dan kemungkinan.
Hidup memang penuh masalah, namun bagaimana cara memecahkannya adalah yang membedakan para pesimis dan optimis.

Coba katakan kalimat-kalimat dibawah ini untuk menguatkan Anda. Lakukan terus menerus, sampai Anda merasa lebih baik. Rasakan energi itu datang, lalu gunakan untuk mulai menyelesaikan masalah Anda.

Kata-kata yang membuat alam bawah sadar Anda yakin bahwa Anda adalah orang optimis, bukan orang pesimis:

1.       Ini betul-betul merupakan masalah. Saya harus menanggulanginya!

2.       Saya tidak mau masalah ini memadamkan semangatku

3.       Saya harus menanggulanginya sebelum bertambah parah

4.       Bila saya tidak mampu menanggulanginya saya akan minta bantuan orang lain

5.       Saya ingin mempelajari segala segi dari masalah ini

6.       Saya tidak akan mencampurkan masalah semu dengan masalah yang sesungguhnya

7.       Saya akan memecahkan masalah ini dengan kreatif

8.       Saya bertekad merobah masalah  ini menjadi kesempatan

9.       Inilah masalah yang harus saya pecahkan

Alexander Graham Bell pernah  berkata, “bila ada satu pintu tertutup, maka akan ada pintu lain yang terbuka. Kan tetapi kita seringterlalu sedih melihat pintu yang tertutup sehingga tidak menyadari adanya pintu yang terbuka lebar”.

MANUSIA DENGAN PRIBADI DINAMIS


Seorang dengan kepribadian dinamis cendereung subur akan ide-ide. Ia memiliki gairah hidup yang menyala-nyala dan  memupuk bakatnya sendiri.  Orang seperti itu selalu nampak seperti manusia paling bahagia di muka bumi ini.

Seorang pribadi yang dimanis itu selalu ingin tahu. Tidak merasa diri berkecukupan, selalu ingin belajar, selalu ingin mencoba sesuatu.

Seorang dinamis melakukan pendekatan dengan cara yang polos dan sederhana. Dia antusias terhadap proyek yang sedang dilakukan, kadang ingin melaksanakan gagasan itu mulai dari awal hingga akhir.  Ia keberatan membiarkan orang lain terombang-ambing dalam idealismenya. Namun ia mempunyai sifat terbuka terhadap pendapat orang lain. Itu adalah esensi dari kedinamisan jiwanya.

Seorang dinamis bersikap independent,  tidak suka bergantung pada orang lain dan tidak  menjadikan pandangan orang lain menghambatnya.  Kebebasan dalam berpikir dan memilih jalan hidup adalah ciri dari kedinamisan jiwanya.  Mereka cenderung tidak menyukai rutinitas.

Orang dinamis percaya diri mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Walau harus berjuang untuk memecahkannya.

Orang dinamis sangat tertuntut untuk berdaya cipta yang kuat karena ia selalu ingin menemukan hal yang baru.

Seorang yang dinamis memiliki semangat pengabdian yang besar.

Seorang yang dinamis, mampu memantapkan tujuan, nilai dan gagasan secepat mungkin.

Seorang yang dinamis, mendahulukan apa yang penting.

Seorang yang dinamis, menyiapkan dirinya untuk tahan uji.

Orang yang dinamis menaruh minat pada banyak hal, hal tersebut membuatnya menjadi orang yang sangat disukai..

Sudah Dinamiskah aku?

Menciptakan Gagasan, Semudah Menghirup Udara


 “Berpikir itu adalah pekerjaan yang paling berat diantara semua pekerjaan. Itulah sebabnya sedikit sekali orang yang senang melakukannya.”

Henry Ford
Gagasan itu seperti udara. Dia berada disekitar kita tapi kita tidak bisa melihatnya. Karena kita menganalogikannya sebagai udara maka, gagasan pun seharusnya dapat kita ambil kapan saja kita mau, dalam jumlah yang tidak terbatas.

Sifat Udara:
1.       Bergerak
2.       Memiliki tekanan
3.       Dapat diatur dalam menghirup dan melepaskannya
4.       Memiliki gaya tolak

Tahukah Anda,  otak manusia mampu menciptakan lebih dari 1000 gagasan setiap hari. Padahal selama ini kita hanya mampu menggunakan kurang dari 10% potensi tersebut.

Alat yang dibutuhkan dalam mencapai sasaran:
1.       Gudang tempat menyimpan memori baik pengalaman maupun pengetahuan, yaitu jalan pikiran.
2.       Kemampuan berkhayal
3.       Kepribadian yang dinamis

Memanfaatkan otak seperti kincir angin. Menghimpun udara sebanyak mungkin untuk akhirnya menggerakkan kincirnya. Sikap yang harus dibentuk adalah selalu ingin tahu, teliti,  dan tahan uji. Menerapkan gagasan sebisa mungkin. Terapkan gagasan lama dalam gagasan yang baru. Kembangkan gagasan kecil menjadi gagasan yang besar.

Jalan pikiran sama dengan parasut. Dia tidak befungsi bila tidak dalam keadaan terbuka. Maka untuk mendapatkan gagasan, kita harus peka pada gagasan tersebut.

Cara membuka pikiran agar tetap terbuka dan arif:
1.       Perluas minat
2.       Bersikaplah senantiasa awas dan waspada. Tanggapilah apa yangsedang dibicarakan orang. Memperhatikan segala sesuatu yang sedang berlangsung. Membaca buku yang beragam.
3.       Hadapi peristiwa sebagai suatu kenyataan. Belajarlah mengenali kesempatan pertama. Jangan terlalu merendahkan diri anda dengan berlebihan, karen ajustru akan menghambat kemajuan diri Anda.
4.       Perluas lingkaran pershabatan dan handai taulan. Jangan kucilkan diri Anda. Yakinlah mereka akan menyadari kemampuan Anda, sasaran, tujuan dan cita-cita Anda.
5.       Biarkanlah nasib mujur menimpa diri Anda. Hendaklah Anda terus berpikir bahwa Anda itu bahagia!

Hmm, menciptakan gagasan ternyata bisa semudah menghirup udara...


Honda, Cinta Membuatnya Bertahan dalam Setiap Kegagalan



Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Ia adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Gihei Honda adalah seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda. Berperan besar dalam menumbuhkan minat Soichiro pada mesin kendaraan bermotor.

Sebagai anak sulung Soichiro  sering membantu ayahnya. Di bengkel, ia bertugas mencabuti paku dengan menggunakan chatut. Selain itu, Soichiro  senang bermain di tempat penggilingan padi. Ia selalu terpesona setiap mendengar dengungan  mesin dan melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya untuk menyaksikan pesawat terbang.


Soichiro bukan lah anak yang suka bersekolah, ia hanya meminati sains. Saat kelas lima dan enam, kelas-kelas sains di Jepang sudah membahas baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin, materi yang sangat disukai oleh Soichiro.Minatnya pada mesin tidak main-main. Ketika usianya 12 tahun, Soichiro berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki.

Suatu hari, Soichiro melihat mobil. Soichiro berlari mengejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah, ia menciumi tanah yang dibasahinya lalu mengusapkannya ke tangan dan lengan. Itulah saat dimana ia merasa benar-benar jatuh cinta pada mobil.

Soichiro hanya bersekolah sampai SMP. Suatu hari Soichiro mendapati sebuah majalah milik ayahnya: ‘The World of Wheels’. Kebetulan majalah memuat iklan lowongan pekerjaan. Soichiro memanfaatkannya dengan baik. Di umur 15 tahun, Soichiro hijrah ke Jepang untuk bekerja di Hart Shokai Company.


Minat dan pengetahuan Soichiro terhadap mesin membuat perusahaannya sangat puas. Menurut Soichiro  perlakuan dan pekerjaan yang ditimpakan kepadanya selama bekerja di bengkel itu merupakan ujian ketabahan yang paling berat. Masa-masa menjadi kacung itulah yang membuat Soichiro kuat dan kehilangan rasa takut. Setelah enam tahun bekerja, bosnya menawarkan Honda untuk membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.

Saat di  Hamamatsu, Soichiro banyak menangani ruji-ruji yang rusak. Tak heran karena pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu yang tidak baik meredam goncangan. Ia mencoba mengganti bahan ruji kayu dengan logam. Ternyata hasilnya memuaskan. Perusahaan-perusahaan Jepang segera mengekspor jari-jari logam itu sampai ke India. Pada umur 25 tahun ia memperoleh keuntungan 1.000 yen sebulan. Di usia 30, Soichiro menandatangani patennya yang pertama.


Setelah menciptakan ruji, Soichiro ingin melepaskan diri dari bosnya dan membuat usaha bengkel sendiri. Namun untuk memulai bisnis sendiri, ia harus memiliki spesialisasi. Maka ia pun mulai bereksperimen, hingga akhirnya tahun 1938 ia berhasil menciptakan ring pinston. Lalu ia menawarkannya ke Toyota yang sudah maju di bidang industri otomotif. Sayang, Toyota menolak. Menurut Toyota, ring buatan Soichiro tidak memenuhi standar, tidak lentur dan tidak akan laku dijual. Penolakan Toyota membuatnya sakit. Dua bulan kemudian Soichiro bangkit kembali memimpin bengkelnya. Tapi, Soichiro masih penasaran akan ring pinston-nya yang ditolak itu.  Untuk memperbaikinya Soichiro yang tidak suka sekolah, berani kuliah lagi. Namun setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia dikeluarkan karena dianggap jarang mengikuti kuliah. Kepada rektornya, ia mengatakan bahwa tujuannya kuliah bukan mencari ijasah, tapi mencari ilmu. Ia tidak memerlukan penjelasan yang tidak membawa pengetahuan baru baginya

Walau DO dari perkuliahan, bukan berarti kerja keras Soichiro meneliti ring pinston berakhir. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya akhirnya diterima Toyota.  Namun nasib baik belum berpihak, saat ia akan mendirikan pabrik ternyata Jepang tidak bersedia memberi dana. Saat itu Jepang tengah bersiap untuk berperang. Tak kehabisan langkah, Soichiro pun mengumpulkan modal dari sekelompok orang. Sayang, suasana perang tidak bersahabat dengan usaha manufakturnya, pabriknya terbakar hingga dua kali. Tak patah semangat, Soichiro kembali mengumpulkan karyawannya. Ia memerintahkan mereka untuk mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat. Kaleng-kaleng itu dijadikan bahan untuk mendirikan pabrik. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, gempa bumi mengguncang Jepang, lalu menghancurkan pabriknya kembali. Kehabisan energi Soichiro lalu menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota.


Menyerah pada ring pinston, Soichiro mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Tahun 1947, Jepang kekurangan bensin pasca perang, kondisi ekonomi Jepang pun porak-poranda. Akibatnya Soichiro tidak dapat menjual mobilnya, sampai-sampai ia tidak mampu membeli makanan untuk keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Ternyata idenya itu banyak diminati. Saat Soichiro kehabisan stok, ia berpikir untuk mendirikan pabrik lagi, kali ini pabrik motor. Disinilah peruntungan Soichiro dimulai, dan semua kegagalan yang dijalaninya berkali-kali diganjar dengan kesuksesan yang luar biasa. Cintanya pada mesin, membuatnya tidak pernah menyerah, walau kegagalan terjadi bertubi-tubi. Cinta itulah yang membuatnya sanggup bertahan. 

***

Selama hidupnya Soichiro terkenal sebagai penemu. Ia memegang hal paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Soichiro mengundurkan diri tahun 1973 dan sejak itu pula Honda pindah ke pasaran kendaraan beroda empat untuk bisa tetap mengembangkan jumlah penghasilan perusahaan. Ketika mengundurkan diri, penghasilan Soichiro mendekati 1,7 miliar dolar.


Bagi Soichiro, masa depan industri Jepang bukan ditentukan oleh kecepatan produksi barang, tetapi oleh mutu barang yang dibuat dan pengaruhnya terhadap kepentingan sesama manusia.
Pesan itulah yang dipegang oleh perusahaan Honda sampai sekarang.

"Perusahaan-perusahaan besar yang hanya mengejar keuntungan besar, memberi peluang bagi perusahaan kecil seperti Honda untuk membuat barang baik". 

 




DELL, sukses karena mencintai pekerjaannya..


Dell Computer, mungkin tidak asing di telinga Anda. Tapi tahukah Anda siapa orang yang berada dibaliknya?  Seorang pria yang dilairkan di Austin, Texas pada 23 Februari 1965. Dia adalah, Michael Saul Dell.  

 Dell tidak berasal dari keluarga miskin. Ibunya seorang pialang saham, dan ayahnya seorang dokter gigi.  Sejak kecil Dell telah menunjukkan minatnya pada teknologi. Saat masih duduk di bangku SMP Dell telah mencoba mem-program ulang sebuah teletype yang dia dapatkan dari sekolah.

Dell kecil sangat menyukai perangko. Untuk membeli perangko-perangkonya Dell berusaha untuk mencari uang. Pada umur 12 tahun Dell bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran China dengan upah USD 2,30 per jam. Dalam usianya yang masih belia itu, Dell kerap bergonta-ganti pekerjaan, mulai menjadi bus boy; karyawan toko perangko dan koin langka; hingga menjadi penjual koran yang menyediakan layanan pemesanan lewat telepon. Pendapatan yang diterima itu dia kumpulkan untuk membeli perangko. Tak dinyana bahwa kemudian perangko-perangko itulah yang akan mengantarkan Dell menjadi brand yang diperhitungkan di dunia teknologi komputer saat ini.

Ketertarikan Dell dunia komputer menguat saat ia berusia 15 tahun. Suatu hari Dell bertandang ke stasiun radio bernama ‘Shack’. Di sana ia sempat mengotak-atik sebuah komputer. Ternyata ketertarikannya pada komputer membuatnya nekat membongkar Apple II, komputer pertamanya. Rupanya Dell sangat penasaran pada cara kerja komputer. Apalagi setelah ia berhasil merakit kembali komputer yang telah dibongkarnya itu, minatnya pada komputer semakin tidak terbendung. Setelah melakukan banyak jenis pekerjaan rendahan, pada usia 18 tahun, Dell  bekerja untuk Houston Post. Saat itu Dell  duduk di SMA, tapi dia sudah menerima gaji sebesar USD18.000 per tahun.

Dell mulai berbisnis komputer pada tahun 1984. Saat itu Dell berusia 19 tahun dan masih menjadi mahasiswa di Universitas Texas, Austin. Dell mengambil jurusan kedokteran demi memuaskan keinginan ayahnya. Sambil kuliah, Dell memulai usahanya sendiri. Dell menjual seluruh koleksi perangkonya sehingga terkumpul USD 1.000. Uang itu ia gunakan sebagai modal awal bisnisnya. Dell berbisnis jual beli komputer dengan bendera “PC’s Limited”. Sebuah bisnis kecil yang dilakukan dari asrama universitas.

Otak bisnis Dell yang terlatih sejak kecil terus berputar. Dell merasa bahwa ia harus menemukan cara sehingga bisnisnya ini memiliki kelebihan dibandingkan usaha yang serupa. Sebagai seorang pengguna komputer Dell merasa perusahaan komputer kurang fleksibel terhadap keinginan konsumen. Berangkat dari situ Dell menjanjikan PC’s Limited mampu menyediakan komputer sesuai spesifikasi yang diinginkan oleh konsumennya. Dell juga berani menawarkan harga yang lebih rendah dibanding harga pasar.  Dell tidak menggunakan toko, ia berhadapan langsung dengan konsumennya, jadi ia tidak perlu membayar perantara. Berinteraksi langsung dengan konsumen memberinya kesempatan untuk memahami apa yang diinginkan mereka. Berbeda! Itulah  adalah konsep yang diusung oleh Dell.

Bisnis Dell ternyata sukses. Namun Dell tidak mampu lagi membagi waktu antara kuliah dan bisnis, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Setelah semakin fokus, usahanya semakin berkembang. Lalu Dell mencoba melebarkan sayap perusahaannya dengan memproduksi komputer pertama yang diberi nama PC Turbo. Perusahaan barunya masih berpegang pada konsep ‘customization’, hanya saja sistem pemasaran tidak lagi dari mulut ke mulut tapi melalui majalah komputer. Cara ini ternyata sangat efektif, PC’s Limited dapat meraih pendapatan kotor sebesar USD 73 juta di tahun pertamanya dan menempatkan diri sebagai satu-satunya perusahaan yang sukses dengan sistem pemasaran seperti itu. Seiring pertumbuhan bisnisnya, pada tahun 1988 PC’s Limited berganti nama menjadi Dell Computer Corporation.

Sukses yang diraih oleh bisnis Dell mengantarkannya untuk dinobatkan sebagai CEO termuda dalam sejarah dunia. Pada usia 27 tahun, Dell telah memiliki perusahaan besar dan masuk dalam daftar 500 perusahaan top versi majalah Fortune (Fortune 500). Tahun 2003, Dell Computer Corporation berganti nama menjadi Dell Inc. Pada tahun 2004, Dell mengundurkan diri sebagai CEO dan memilih duduk di dewan direksi. Tetapi untuk menyelamatkan perusahaan dari keterpurukan, pada 2007 Dell kembali menjadi CEO, menggantikan Kevin Rolling. Kembalinya Dell ke perusahaan membawa arus kemajuan. Hal ini terbukti dari keberhasilannya menjadikan Dell Inc. sebagai salah satu perusahaan komputer terkemuka di dunia, hingga berhasil menduduki peringkat 41 dalam daftar 500 Fortune Companies di tahun 2011. Jangan tanya lagi tentang kekayaan yang diraup Dell dari kesuksesannya  itu. Majalah Forbes menggelarinya sebagai salah satu orang terkaya di dunia di tahun yang sama. Forbes memperkirakan total kekayaan bersih Dell mencapai USD15 miliar. 

“Masalah sudah pasti muncul. Bagaimana kemampuan Anda untuk mengatasinya dan belajar dari masalah itu agar tidak mengulanginya. Hal itu yang akan membawa Anda sukses.”
(Michael Dell)