Tampilkan postingan dengan label BRS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BRS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH









No. 06/02/32/Th. XV, 1 Februari 2013

NILAI TUKAR PETANI JANUARI 2013 SEBESAR 111,26 ATAU TURUN 0,26 PERSEN

þ  Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Januari 2013 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,26 persen dibandingkan NTP Desember 2012 yaitu turun dari 111,55 menjadi 111,26. Hal ini disebabkan oleh Indeks Harga Diterima Petani (IT) mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan Indeks Harga Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 1,08 persen.
þ  Dari lima subsektor pertanian empat diantaranya mengalami penurunan NTP. Subsektor Tanaman Hortikultura mengalami penurunan NTP tertinggi yaitu sebesar 0,80 persen dari 118,30 menjadi 117,36, disusul NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 0,48 persen dari 118,17 menjadi 117,61, NTP Subsektor Peternakan turun 0,38 persen dari 98,29 menjadi 97,92 dan NTP Subsektor Tanaman Pangan turun sebesar 0,11 persen dari 110,52 menjadi 110,40, sementara NTP Subsektor Perikanan naik sebesar 0,05 persen dari 112,96 menjadi 113,01. 
þ  Daerah Pedesaan di Jawa Barat pada Januari 2013 terjadi inflasi sebesar 1,20 persen. Ketujuh kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, kenaikan harga barang & jasa tertinggi terjadi pada Kelompok Bahan Makanan yaitu sebesar 1,93 persen disusul Kelompok Makanan Jadi 0,77 persen, Kelompok Perumahan 0,56 persen, Kelompok Kelompok Transportasi & Komunikasi 0,48 persen, Kelompok Kesehatan 0,47 persen, Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 0,18 persen serta Kelompok Sandang 0,04 persen. 
þ  Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah berdasarkan INPRES No. 3 tahun 2012 menetapkan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp. 3.300,- per kilogram dan di tingkat penggilingan Rp. 3.350,-, untuk Gabah Kering Giling (GKG) tingkat penggilingan seharga Rp. 4.150,- per kilogram.  Dari hasil pengamatan transaksi Gabah selama Januari 2013 di 169 observasi Jawa Barat seluruhnya berada di atas HPP. GKP Petani terendah sebesar Rp. 3.450,- per kilogram dijumpai di Kabupaten Cianjur dan tertinggi Rp. 5.700,- dijumpai di Kabupaten Indramayu. Transaksi GKG Penggilingan terendah sebesar Rp. 5.050,- per kilogram terjadi di Kabupaten Cianjur dan tertinggi Rp. 5.650,- di Kabupaten Indramayu.


Semoga Bermanfaat!
Marisa Wajdi!!!

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA BARAT TRIWULAN IV-2012 SEBESAR 107,88









No. 10/02/32/Th. XV, 5 Februari 2013

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2012 SEBESAR 107,88

þ        Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks komposit persepsi rumahtangga mengenai kondisi ekonomi konsumen dan perilaku konsumsi terhadap situasi perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STK mulai dilakukan di wilayah Jawa Barat pada tahun 2011 dengan jumlah sampel setiap triwulan sebanyak 2.560 rumah tangga.
þ       Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Jawa Barat pada triwulan IV-2012 sebesar 107,88 artinya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan IV ini membaik dari triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme konsumen lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III-2012 (nilai ITK sebesar 109.33).
þ        Kondisi ekonomi konsumen membaik terutama didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga. Selain itu membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan IV-2012 juga disebabkan oleh tidak adanya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari (nilai indeks sebesar 112,92).
þ       Nilai ITK di Jawa Barat pada triwulan I-2013 diperkirakan sebesar 106,02, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik. Meskipun dengan tingkat optimisme konsumen yang diperkirakan lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2012 .


Kamis, 07 Februari 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN IV / 2012


No. 09/02/32 Th. XIV, 6 Februari 2012
þ  Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) PDRB Jawa Barat Tahun 2012 6,21 persen (c to c), sedangkan laju pertumbuhan ekonomi triwulan IV/2012 dibandingkan dengan PDRB triwulan IV/2011 (y on y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,47 persen. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan year on year didorong oleh peningkatan seluruh sektor kecuali sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian, yang mengalami pertumbuhan negatif masing-masing  sebesar -7,53 persen dan -13,77 persen. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan y-on-y didorong oleh peningkatan laju pertumbuhan konsumsi rumahtangga termasuk konsumsi lembaga non profit (4,43%), PMTB (8,36%), perubahan inventori (26,32%) dan  ekspor (4,90%).

þ  Sementara LPE triwulan IV tahun 2012 secara quarter to quarter (qtq) dari sisi lapangan usaha, mengalami pertumbuhan negatif sebesar -1,11 persen. Pada triwulan ini  sektor yang memiliki laju pertumbuhan negatif adalah sektor pertanian (-20,37 %), sektor pertambangan dan penggalian (-17,70 %). LPE tertinggi pada triwulan ini dicapai oleh sektor konstruksi yaitu sebesar 7,78 persen. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan negatif LPE secara q to q sebesar (-1,19%) dipicu oleh peningkatan impor (11,64%) yang merupakan pengurang bagi perekonomian serta penurunan pada perubahan inventori (-13,52%).  Sementara komponen lainnya masih mengalami pertumbuhan positif,  antara lain konsumsi rumahtangga termasuk lembaga non profit (0,45%), konsumsi pemerintah (16,44%),  PMTB (3,32%)  dan  ekspor (1,97%

þ  Besaran PDRB  Jawa Barat  atas  dasar  harga  berlaku  pada  triwulan IV tahun  2012 mencapai Rp.242,27 triliun, sedangkan atas dasar harga  konstan  2000  mencapai  Rp.92,21 triliun. Dari sisi lapangan usaha, peranan sektor utama yakni sektor industri pengolahan (35,44 %), sektor perdagangan-hotel-restoran (24,78 %), sektor  jasa-jasa (10,02 %), dan sektor pertanian (9,73 %) terhadap struktur perekonomian Jawa Barat pada triwulan IV tahun 2012. Sementara dari sisi penggunaan, sebagian besar PDRB Provinsi Jawa Barat digunakan untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga termasuk lembaga non profit sebesar 59,08 persen, ekspor 36,30 persen, dan PMTB 19,20 persen.

þ  Sumber laju pertumbuhan (Source of Growth, SOG) secara q to q dari sisi lapangan usaha yang mendorong laju pertumbuhan negatif adalah sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian, masing-masing sebesar -2,42 persen dan -0,33 persen. Dari sisi penggunaan, komponen-komponen mendukung penurunan laju pertumbuhan adalah peningkatan impor (3,56%) serta penurunan perubahan inventori (- 0,60%).



Semoga Bermanfaat
Marisa Wajdi!!!