Jumat, 08 Februari 2013

Empat Sumber Kegagalan Perusahaan dalam Melakukan Perubahan


Perubahan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Hasil sebuah riset menunjukkan bahwa hampir 50 % perusahaan/institusi yang melakukan perubahan mengalami kegagalan.  Hammer dalam papernya yang berjudul: “ Reengineering Work; Don’t Automate Obligarate, menyebutkan empat hal penyebab kegagalan tersebut.

Empat hal yang menjadi sumber kegagalan tersebut adalah:

1.     Resistance to Change

Menolak untuk berubah. Memangnya ada orang yang tidak mau berubah? Wah ada, banyak malah. Apalagi mereka yang sudah berada di zona nyaman. Sebaliknya, mereka yang merasa tidak nyaman cenderung akan menuntut agar perubahan cepat terlaksana. Ini bisa menjadi conflict of interest¸ yang bisa menjadi duri dalam daging bagi perubahan.

     2.   Lack Management Commitment

Perubahan akan berjalan dengan baik jika semua lapisan melakukan perannya masing-masing. Demi keberhasilan perubahan, komitmen manajemen harus solid. Manajemen yang baik akan mampu mensinergikan semua aspek. Perubahan yang terjadi di tiap aspek bisa berpotensi untuk menimbulkan masalah. Bila terjadi lack of management, maka masalah yang timbul sulit untuk diselesaikan dan menjadi pemicu bagi masalah-masalah yang lainnya.

3.   Lack of Capability Information System

Di zaman yang sudah maju ini penguasaan teknologi menjadi suatu yang niscaya. Kemampuan para pemimpin terhadap penguasaan teknologi bukan lagi: “sebaiknya” tapi ‘harus’. Pada era perubahan seperti ini sudah tidak layak menjadikan ‘bawahan’ menjadi ‘pelayan’ bagi pimpinan. Tapi pemimpin justru menjadi fasilitastor bagi para bawahannya agar tetap berada di trek organisasi dan menghasilkan outcome sesuai dengan yang diharapkan.

4.   Lack of Breath and Depth Analysis of Critical Factors

Kemampuan untuk mengenali kendala yang dihadapi dalam mencapai sasaran sangat penting. Upaya monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan secara simultan. Dibekali kemampuan teknis dan manajemen yang baik seorang pemimpin akan mampu membawa lembaga ke arah perubahan yang lebih baik.


Nah, apakah perubahan yang kita lakukan sudah dalam ‘jalan yang benar’?
Mungkin empat point di atas bisa menjadi bahan dalam evaluasi agenda perubahan kita hari ini.
Salam perubahan!

Marisa Wajdi!!!
gambar diambil disini

STATCAP-CERDAS, Jembatan Menuju Perubahan


Statistic Capacity Building- Change anf reform for Development of Statistic (STATCAP_CERDAS) dari namanya yang  hebat, pasti ada tuntutan hebat pula dibelakangnya. Program ini dihembuskan dalam semangat pembaharuan dalam Badan Pusat Statistik. Institusi dimana saya bekerja.

Perubahan adalah satu kata yang pendek dan mudah diucapkan, tapi ternyata tidak mudah untuk dikerjakan.

Kepala BPS-RI bertekad memulai perubahan BPS di segala bidang: fisik; prasarana; dan kesejahteraan. Betapa dalam tahun-tahun terakhir ini  gedung-gedung  BPS direnovasi hingga mentereng. Saking menterengnya, banyak yang mengira gedung BPS gedung bank baru!  Ini adalah salah satu nyata adanya perubahan secara fisik. Selain itu, kebijakan one man one PC, sudah tercapai. Jadi perubahan apa lagi yang diperlukan?

Beberapa tahun yang lalu, masih ada seorang teman yang terduduk lunglai saat menyadari mainboard-nya rusak padahal datanya belum diback up. Bagaimana dengan temanku yang satu lagi, harus lembur sampai malam karena di rumah tidak punya komputer, sedangkan bos tidak  rela meminjamkan notebook plat merahnya. Lalu bagaimana dengan staf yang harus ke warnet karena internet kantor lemot, sehingga harus merogoh kocek pribadi demi perintah bos. Lalu bagaimana dengan tuntutan harus tinggal di kantor selama jam kerja, padahal tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan di kantor karena para bos tidak ada di tempat, asyik dengan proyeknya masing-masing. Tapi itu dulu, bayangan yang baru saja berkelebat adalah bayangan tahun 2009. Sekarang, setiap ruangan ber AC, dengan PC baru, software non bajakan, fasilitas wifi-pun tersedia.

Tapi masih ada yang belum bisa berubah, dan sepertinya susah berubah. Manusia-manusianya! Bagaimana tidak? Dididik bertahun-tahun dengan pola tertentu, menjadikan hampir seluruh lapisan menjadikan semua pekerjaan sebagai bussiness as usual, monoton tanpa soul.  Kalau ditanya: "kenapa ini begini?", jawabannya cuma: "ya, dari dulu memang sudah begitu". Tidak ada semangat untuk memahami apa yang dilakukan, untuk apa kegiatan itu dilakukan dan mempertanyakan, "apa yang terjadi jika saya tidak melakukan Standard Operational Procedure (SOP)?". Jika pola lama ini tidak dirubah, maka semua tujuan perubahan tidak akan tercapai, karena perubahan tidak cukup hanya fisik/raga, tapi yang terpenting adalah jiwa/soul-nya.  Yang bisa membuat data menjadi terpercaya adalah manusianya, bukan gedungnya, bukan komputernya.

Harapan saya sebagai perwakilan  grassroot, semoga intisari  STATCAP-CERDAS bisa dipahami oleh kami. Entah caranya bagaimana. Mungkin sosialisasi saja cukup untuk sebagian orang.Tapi saya yakin, suri tauladan dari para petinggi lebih bisa ditangkap oleh semua orang.

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. 
Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. 
Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”
*pesan Rasul dalam mimpi Al Ghazali


Marisa Wajdi!!!
Ada kata-kata indah yang menggugah semangat perubahan. Lihat disini

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH









No. 06/02/32/Th. XV, 1 Februari 2013

NILAI TUKAR PETANI JANUARI 2013 SEBESAR 111,26 ATAU TURUN 0,26 PERSEN

þ  Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat pada Januari 2013 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,26 persen dibandingkan NTP Desember 2012 yaitu turun dari 111,55 menjadi 111,26. Hal ini disebabkan oleh Indeks Harga Diterima Petani (IT) mengalami kenaikan sebesar 0,82 persen lebih rendah dibandingkan kenaikan Indeks Harga Dibayar Petani (IB) yang naik sebesar 1,08 persen.
þ  Dari lima subsektor pertanian empat diantaranya mengalami penurunan NTP. Subsektor Tanaman Hortikultura mengalami penurunan NTP tertinggi yaitu sebesar 0,80 persen dari 118,30 menjadi 117,36, disusul NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 0,48 persen dari 118,17 menjadi 117,61, NTP Subsektor Peternakan turun 0,38 persen dari 98,29 menjadi 97,92 dan NTP Subsektor Tanaman Pangan turun sebesar 0,11 persen dari 110,52 menjadi 110,40, sementara NTP Subsektor Perikanan naik sebesar 0,05 persen dari 112,96 menjadi 113,01. 
þ  Daerah Pedesaan di Jawa Barat pada Januari 2013 terjadi inflasi sebesar 1,20 persen. Ketujuh kelompok pengeluaran serentak mengalami inflasi, kenaikan harga barang & jasa tertinggi terjadi pada Kelompok Bahan Makanan yaitu sebesar 1,93 persen disusul Kelompok Makanan Jadi 0,77 persen, Kelompok Perumahan 0,56 persen, Kelompok Kelompok Transportasi & Komunikasi 0,48 persen, Kelompok Kesehatan 0,47 persen, Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 0,18 persen serta Kelompok Sandang 0,04 persen. 
þ  Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah berdasarkan INPRES No. 3 tahun 2012 menetapkan harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp. 3.300,- per kilogram dan di tingkat penggilingan Rp. 3.350,-, untuk Gabah Kering Giling (GKG) tingkat penggilingan seharga Rp. 4.150,- per kilogram.  Dari hasil pengamatan transaksi Gabah selama Januari 2013 di 169 observasi Jawa Barat seluruhnya berada di atas HPP. GKP Petani terendah sebesar Rp. 3.450,- per kilogram dijumpai di Kabupaten Cianjur dan tertinggi Rp. 5.700,- dijumpai di Kabupaten Indramayu. Transaksi GKG Penggilingan terendah sebesar Rp. 5.050,- per kilogram terjadi di Kabupaten Cianjur dan tertinggi Rp. 5.650,- di Kabupaten Indramayu.


Semoga Bermanfaat!
Marisa Wajdi!!!

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA BARAT TRIWULAN IV-2012 SEBESAR 107,88









No. 10/02/32/Th. XV, 5 Februari 2013

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) TRIWULAN IV-2012 SEBESAR 107,88

þ        Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks komposit persepsi rumahtangga mengenai kondisi ekonomi konsumen dan perilaku konsumsi terhadap situasi perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STK mulai dilakukan di wilayah Jawa Barat pada tahun 2011 dengan jumlah sampel setiap triwulan sebanyak 2.560 rumah tangga.
þ       Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Jawa Barat pada triwulan IV-2012 sebesar 107,88 artinya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan IV ini membaik dari triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme konsumen lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan III-2012 (nilai ITK sebesar 109.33).
þ        Kondisi ekonomi konsumen membaik terutama didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga. Selain itu membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan IV-2012 juga disebabkan oleh tidak adanya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari (nilai indeks sebesar 112,92).
þ       Nilai ITK di Jawa Barat pada triwulan I-2013 diperkirakan sebesar 106,02, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik. Meskipun dengan tingkat optimisme konsumen yang diperkirakan lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2012 .


Kamis, 07 Februari 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA BARAT TRIWULAN IV / 2012


No. 09/02/32 Th. XIV, 6 Februari 2012
þ  Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) PDRB Jawa Barat Tahun 2012 6,21 persen (c to c), sedangkan laju pertumbuhan ekonomi triwulan IV/2012 dibandingkan dengan PDRB triwulan IV/2011 (y on y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,47 persen. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan year on year didorong oleh peningkatan seluruh sektor kecuali sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian, yang mengalami pertumbuhan negatif masing-masing  sebesar -7,53 persen dan -13,77 persen. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan y-on-y didorong oleh peningkatan laju pertumbuhan konsumsi rumahtangga termasuk konsumsi lembaga non profit (4,43%), PMTB (8,36%), perubahan inventori (26,32%) dan  ekspor (4,90%).

þ  Sementara LPE triwulan IV tahun 2012 secara quarter to quarter (qtq) dari sisi lapangan usaha, mengalami pertumbuhan negatif sebesar -1,11 persen. Pada triwulan ini  sektor yang memiliki laju pertumbuhan negatif adalah sektor pertanian (-20,37 %), sektor pertambangan dan penggalian (-17,70 %). LPE tertinggi pada triwulan ini dicapai oleh sektor konstruksi yaitu sebesar 7,78 persen. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan negatif LPE secara q to q sebesar (-1,19%) dipicu oleh peningkatan impor (11,64%) yang merupakan pengurang bagi perekonomian serta penurunan pada perubahan inventori (-13,52%).  Sementara komponen lainnya masih mengalami pertumbuhan positif,  antara lain konsumsi rumahtangga termasuk lembaga non profit (0,45%), konsumsi pemerintah (16,44%),  PMTB (3,32%)  dan  ekspor (1,97%

þ  Besaran PDRB  Jawa Barat  atas  dasar  harga  berlaku  pada  triwulan IV tahun  2012 mencapai Rp.242,27 triliun, sedangkan atas dasar harga  konstan  2000  mencapai  Rp.92,21 triliun. Dari sisi lapangan usaha, peranan sektor utama yakni sektor industri pengolahan (35,44 %), sektor perdagangan-hotel-restoran (24,78 %), sektor  jasa-jasa (10,02 %), dan sektor pertanian (9,73 %) terhadap struktur perekonomian Jawa Barat pada triwulan IV tahun 2012. Sementara dari sisi penggunaan, sebagian besar PDRB Provinsi Jawa Barat digunakan untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga termasuk lembaga non profit sebesar 59,08 persen, ekspor 36,30 persen, dan PMTB 19,20 persen.

þ  Sumber laju pertumbuhan (Source of Growth, SOG) secara q to q dari sisi lapangan usaha yang mendorong laju pertumbuhan negatif adalah sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian, masing-masing sebesar -2,42 persen dan -0,33 persen. Dari sisi penggunaan, komponen-komponen mendukung penurunan laju pertumbuhan adalah peningkatan impor (3,56%) serta penurunan perubahan inventori (- 0,60%).



Semoga Bermanfaat
Marisa Wajdi!!!




Rabu, 06 Februari 2013

BELAJAR DARI “BLACK DEATH”

Pada abad ke -14, dunia sudah dipenuhi hiruk-pikuk peperangan, politik dan keserakahan. Perang perebutan kekuasaan terjadi diseluruh bagian dunia. Sampai suatu ketika, binatang kecil bernama kutu tidak mau kalah dan mulai menunjukkan kekuatannya. Kutu-kutu itu rupanya sudah terinfeksi sesuatu dari tubuh tikus yang mereka gigit. Kemudian kutu-kutu itu menggigit manusia dan menyebarkan wabah yang mengerikan.

Awalnya wabah terjadi di sebuah wilayah di Itali. Infeksi itu tidak pernah diketahui penyebab yang sebenarnya, yang jelas ia menyebar tanpa kendali. Lebih dari seperempat populasi Eropa menghadapi kematian karenanya. Bencana inilah yang kemudian dikenal sebagai “Black Death”. Sebuah epidemi yang secara permanen mengubah wajah Eropa pada zaman pertengahan.

 Rasa takut yang ditimbulkan “Black Death” menyebabkan gelombang histeria keagamaan. Namun dampak yang paling signifikan terjadi pada kaum feodal. Berkurangnya populasi akibat epidemi itu membuat populasi tenaga kerja kasar merosot dan habis. Sistem feodal yang dibangun kokoh diatas kekuatan para rakyat jelata, kehilangan penopangnya. Merekapun runtuh dan tidak mampu bangkit lagi.

Hal ini membuktikan bahwa kekuasaan akan kuat, saat orang-orang kecil yang menopangnya juga kuat. Jika mereka yan gberkuasa tidak mampu menjaga para penopang dan penyangganya, maka sudah bisa dipastikan mereka tidak akan lama berada di posisi atas. Jika mereka sudah runtuh dan jatuh menjadi puing, maka mereka tak ada beda dengan onggokan bangunan tua yang tak berharga.


"Atom adalah bagian terkecil dari suatu zat. Saat Einstein mencoba memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil, maka ledakannya mampu menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima."


Marisa Wajdi!!!

Negara yang Berencana Me-Redenominasi Mata Uang-nya, Selain Indonesia


1.     Irak 

All Iraqi News Agency (AINA) melaporkan pada bulan Desember 2012, bahwa rencana redenominasi  mata uang Dinar tengah digodok di parlemen. Namun implementasinya kemungkinan tidak mungkin tahun 2013, karena situasi keamanan negara tetangga Iran itu masih kacau balau. Harapannya mereka bisa melaksanakannya pada tahun 2014.
Langkah redenominasi ini diambil untuk menyesuaikan nilai tukar Dinar Irak terhadap US$ yang semakin turun. Bank Sentral Irak (CBI) telah mengusulkan gagasan itu sejak April lalu.  Rencananya Irak akan menghilangkan 3 digit nol. Jika penyederhanaan mata uang ala CBI sukses, maka USD 100 yang saat ini setara 123.000 Dinar  hanya menjadi 123 Dinar saja.
Sama halnya dengan Indonesia, ide menghapus nol itu mendapat banyak tentangan. Pemerintah Irak lebih suka melakukan pengetatan anggaran dibanding menghapus nol dari dinar untuk memperkuat kondisi makro ekonomi negara itu.

2.     Belarusia

Selain Irak, negara yang saat ini sedang getol membahas penghapusan nol dari mata uangnya adalah Belarusia. Negara pecahan Uni Soviet itu berencana merealisasikan redenominasi terhadap Belarusian Rubel pertengahan tahun depan.
Tapi karena tekanan dari parlemen cukup besar, Gubernur Bank Sentral Belarusia Nadzezdha Yermakova menilai gagasan pihaknya belum perlu direalisasikan segera. Dia akan mematangkan rencana itu sampai legislatif dan masyarakat terbiasa dengan ide menghapus nol dari mata uang mereka.

3.     Zambia.

 Negara di kawasan selatan Benua Afrika itu bakal menghapus tiga nol dari mata uangnya, Kwacha, pada 2013. Negara itu memiliki pengalaman serupa Indonesia, yaitu pernah mengalami pengurangan nilai tukar dan hiperinflasi. Bank Sentral Zambia mengaku terinspirasi langkah penyerderhanaan mata uang oleh Argentina dan Brasil pada 1980-an, yang sukses memulihkan kondisi makro ekonomi kedua.

Menteri Keuangan Zambia Alexander Chikwanda mengatakan,  “perubahan ini bertujuan mengatasi spiral inflasi yang selama bertahun-tahun me­nye­babkan mata uang meng­alami depresiasi ke tingkat yang tidak tertahankan, yang ti­dak bernilai netral dalam hal ekonomi”.[1]





[1] http://internasional.rmol.co/read/2013/01/03/92543/Zambia-Lakukan-Redenominasi-