Rabu, 16 Mei 2018

TABEL INPUT-OUTPUT: Klasifikasi

#5 Klasifikasi Tabel Input-Output


Tabel I-O merupakan suatu sistem data yang menyajikan data perekonomian suatu negara atau daerah secara menyeluruh atau komprehensif.  Dengan demikian, suatu tabel I-O mampu menjelaskan kinerja ekonomi secara umum dan juga secara spesifik dari berbagai kegiatan ekonomi di negara atau daerah bersangkutan, khususnya mengenai keterkaitan antar kegiatan-kegiatan ekonomi di negara atau daerah tersebut.



Pada  dasarnya, barang dan jasa atau komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi dapat terdiri dari berbagai jenis dan dihasilkan dalam bentuk fisik yang berbeda.    Oleh karena itu, dalam suatu tabel I-O perlu dilakukan kesamaan satuan ukuran dari berbagai macam barang dan jasa yang dihasilkan, dan pada kasus ini disepakati untuk menggunakan satuan moneter yang sama.  Satuan ukuran barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi di Indonesia dalam tabel I-O Indonesia dicatat dalam satuan nilai mata uang Indonesia, yaitu rupiah Indonesia.

Karena sedemikian banyaknya barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi, maka dalam penyusunan suatu tabel I-O dibutuhkan juga suatu klasifikasi barang dan jasa yang dihasilkan termasuk barang dan jasa (komoditi-komoditi) yang digunakan sebagai input antara atau konsumsi akhir.  Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa untuk menyusun klasifikasi ini, Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) Indonesia dan Klasifikasi Baku Komoditi Indonesia (KBKI) telah digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menyusun klasifikasi tabel I-O Indonesia. 

Tabel 5.1 berikut menyajikan suatu klasifikasi tabel I-O Indonesia 2008 yang berukuran 66x66 (tabel I-O Indonesia yang simetris).  Dengan demikian, klasifikasi yang disajikan pada contoh ini adalah 66 klasifikasi sektor atau kegiatan ekonomi.[1]


                                                      Tabel 5.1
                        (Contoh) Klasifikasi 66 Kegiatan Ekonomi
                                      Tabel I-O Indonesia 2008 


Kode I-O
Kegiatan Ekonomi/Komoditas
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
180
190
200
Padi
Tanaman Kacang-kacangan
Jagung
Tanaman Umbi-umbian
Sayur-sayuran dan buah-buahan
Tanaman bahan makanan lainnya
Karet
Tabu
Kelapa
Kelapa sawit
Tembakau
Kopi
Teh
Cengkeh
Hasil tanaman serat
Tanaman perkebunan lainnya
Tanaman lainnya
Peternakan
Pemotongan hewan
Unggas dan hasil-hasilnya
Kayu
Hasil hutan lainnya
Perikanan
Penambangan batu bara dan bijih logam
Penambangan minyak, gas, dan panas bumi
Penambangan dan penggalian lainnya
Industri pengolahan dan pengawetan makanan
Industri minyak dan lemak
Industri penggilingan padi
Industri tepung segala jenis
Industri gula
Industri makanan lainnya
Industri minuman
Industri rokok
Industri pemintalan
Industri tekstil, pakaian, dan kulit
Industri bambu, kayu, dan rotan
Industri kertas, barang dari kertas dan karton
Industri pupuk dan pestisida
Industri kimia
Pengilangan minyak bumi
Industri barang karet dan plastik
Industri barang-barang dari mineral bukan logam
Industri semen
Industri dasar besi dan baja
Industri logam dasar bukan besi
Industri barang dari logam
Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik
Industri alat pengangkutan dan perbaikannya
Industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun
Listrik, gas, dan air bersih
Bangunan
Perdagangan
Restoran dan hotel
Angkutan kereta api
Angkutan darat
Angkutan air
Angkutan udara
Jasa penunjang angkutan
Komunikasi
Lembaga keuangan
Real estate dan jasa perusahaan
Pemerintahan umum dan pertahanan
Jasa sosial kemasyarakatan
Jas lainnya
Kegiatan yang tidak jelas batasannya
Jumlah permintaan antara
Jumlah input antara
Input antara impor
201
202
203
204
205
209
210
Upah dan gaji
Surplus usaha
Penyusutan
Pajak Tidak Langsung
Subsidi
Nilai tambah bruto
Total Input
301
302
303
304
305
306
309
310
401
402
403
404
405
409
501
502
503
509
600
700
Pengeluaran konsumsi rumahtangga
Pengeluaran konsumsi pemerintah
Pembentukan modal tetap bruto
Perubahan inventori
Ekspor barang
Ekspor jasa
Jumlah permintaan akhir
Total permintaan
Impor barang
Pajak penjualan
Bea masuk
Impor jasa
Subsidi impor BBM
Jumlah impor
Marjin perdagangan besar
Marin perdagangan eceran
Biaya pengangkutan
Jumlah marjin perdagangan dan biaya pengangkutan
Total output
Total penyediaan


[1]Besarnya klasifikasi suatu table Input-Output tergantung kepada kebutuhan analisis dan ketersediaan data.  Klasifikasi tabel I-O Indonesia 2008 yang lebih rinci dari 66 klasifikasi adalah 175 klasifikasi.

TABEL INPUT-OUTPUT: Bagan Dasar


#4 Bagan Dasar Tabel I-O

Untuk menjelaskan keterkaitan yang terjadi antar kegiatan ekonomi di suatu negara dibutuhkan suatu bagan dasar tabel I-O.  Tabel I-O pertama kali dikembangkan oleh Profesor Wassily Leontief pada akhir tahun 1930-an yang menyebabkan beliau menerima Nobel Prize in Economic Science pada tahun 1973.[1]

Tabel I-O merupakan suatu metode kompilasi data atau sistem data yang menunjukkan keterkaitan suatu proses produksi dengan proses produksi yang lain pada suatu perekonomian yang terbuka (open economy).  Artinya, perekonomian suatu negara tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi domestik tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal (luar negeri) seperti ekspor dan impor.  Dengan menggunakan tabel I-O dapat dipahami bagaimana suatu kegiatan ekonomi berhubungan atau terkait dengan kegiatan-kegiatan ekonomi yang lain melalui keterkaitan penggunaan input antara untuk menghasilkan output kegiatan ekonomi yang lain, alokasi output atau produk yang digunakan sebagai input antara dan konsumsi akhir, serta struktur input atau struktur ekonomi yang terjadi dalam suatu proses produksi pada suatu perekonomian. 

Tabel I-O disusun dalam suatu bentuk matrik yang terdiri dari baris-baris dan kolom-kolom, yang menggambarkan keterkaitan barang dan jasa (goods and services) yang dihasilkan dan yang dibutuhkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu negara pada suatu waktu.   Suatu tabel I-O sebenarnya terdiri dari 4 (empat) kuadran, tetapi pada buku ini suatu tabel I-O diperkenalkan dengan 3 (tiga) kuadran, mengikuti tabel I-O yang dibangun oleh Badan Pusat Statistik (BPS).[2]

Tabel 4.1 menyajikan bagan dasar dari suatu tabel I-O dengan penjelasan mengenai ketiga kuadran adalah sebagai berikut:
  • Kuadran I disebut sebagai kuadran input antara (intermediate inputs) atau konsumsi antara (intermediate consumption),
  • Kuadran II disebut sebaai kuadran konsumsi akhir (final consumption) atau permintaan akhir (final demand),
  • Kuadran III disebut sebagai kuadran nilai tambah (value added) atau input primer (primary inputs).

Kuadran I memuat semua input antara yang dibutuhkan oleh suatu kegiatan ekonomi untuk menghasilkan output atau produk.  Misalnya, untuk menghasilkan produk padi dibutuhkan bibit padi, pupuk, dan pestisida.  Dengan demikian, kolom pada kuadran I menunjukkan kegiatan ekonomi yang menghasilkan padi (disebut juga sebagai industri yang menghasilkan komoditas atau produk padi), sedangkan baris pada kuadran I menunjukkan komoditas-komoditas bibit padi, pupuk, dan pestisida yang dibutuhkan sebagai input antara, termasuk komoditas (produk) yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi bersangkutan (yaitu padi).  Klasifikasi kegiatan-kegiatan ekonomi atau industri mengikuti klasifikasi yang disebut sebagai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).  Panduan klasifikasi ini sudah dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).  Sedangkan klasifikasi komoditas-komoditas (produk-produk) yang dihasilkan atau yang dibutuhkan sebagai input antara mengikuti panduan yang juga sudah dipublikasi oleh BPS yang disebut sebagai Klasifikasi Baku Komoditas-Komoditas Indonesia (KBKI).  Kedua klasifikasi ini, KBLI dan KBKI, merupakan implementasi dari panduan yang diberikan oleh United Nations dengan masing-masing judul International Standard for Industrial Classification (ISIC) dan Central Product Classifications (CPC), tetapi kedua KBLI dan KBKI tersebut disusun dengan menggunakan kasus-kasus di Indonesia.[3]

Kuadran II memuat semua permintaan akhir (final demand), yang terdiri dari permintaan konsumsi rumahtangga, permintaan konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, dan ekspor/impor.  Kuadran II ini merupakan rincian dari komponen-komponen PDB Pengeluaran atau PDB Penggunaan.[4]

Kuadran III memuat semua komponen dari nilai tambah, yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung. Secara umum, kuadran III menjelaskan PDB menurut pendapatan karena dari kuadran III dapat diperoleh rincian PDB menurut pendapatan yang tercipta di suatu negara, yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung. Kuadran III juga menjelaskan PDB menurut berbagai kegiatan produksi karena dari kuadran ini diperoleh rincian mengenai nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh berbagai kegiatan ekonomi di suatu negara.  Kuadran III ini juga merupakan rincian dari PDB Produksi.[5]

Secara total, kuadran I dan kuadran II pada tabel I-O menjelaskan alokasi output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi yang digunakan sebagai konsumsi antara (atau input antara) dan sebagai konsumsi akhir.  Dengan demikian, kuadran I ditambah dengan kuadran II menjelaskan total output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan ekonomi yang dirinci menurut konsumsi antara (atau input antara) dan menurut konsumsi akhir (atau permintaan akhir), atau disebut juga sebagai alokasi output (allocations of output) dari suatu produk atau output.  Dalam terminologi penyusunan tabel I-O, kuadran I ditambah dengan kuadran II adalah sama dengan total output yang dihasilkan oleh suatu negara.


                                                                  Tabel 4.1
                                                   Bagan Dasar Tabel Input-Output


Kuadran I
(Kuadran Input Antara atau Konsumsi Antara)


Kuadran II
(Kuadran Konsumsi atau Permintaan Akhir)

Kuadran III
(Kuadran Input Primer atau Nilai Tambah)



Secara total, kuadran I dan kuadran III menjelaskan struktur input (input structures) dalam suatu proses produksi untuk menghasilkan output suatu kegiatan ekonomi, yang masing-masing dirinci atas input antara dan input primer (primary inputs) atau nilai tambah (value added).  Dengan demikian, kuadran I ditambah dengan kuadran III menjelaskan total input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output suatu kegiatan ekonomi, yang sama dengan total input.  Dalam terminologi penyusunan tabel I-O, kuadran I ditambah dengan kuadran III sama dengan total input. Dalam proses penyusunan tabel I-O, total input harus sama dengan total output (jumlah kuadran I ditambah dengan kuadran II).

Dengan demikian, setiap angka atau sel dalam kudran I mempunyai pengertian ganda, yaitu sebagai input antara pada waktu melihat dari sisi struktur input; dan sebagai permintaan antara pada waktu melihat dari sisi alokasi output.  Input antara atau permintaan antara adalah permintaan terhadap barang dan jasa yang digunakan untuk proses lebih lanjut pada sektor produksi.

Jika tabel 4.1 dirinci secara lebih spesifik, maka bagan umum dari suatu tabel I-O dapat dirinci sebagaimana disajikan oleh tabel 3.3. Tabel 3.3 memberikan kerangka umum (general framework) mengenai suatu tabel I-O secara lebih rinci.  Misalkan hanya terdapat tiga kegiatan ekonomi di suatu negara, yaitu kegiatan ekonomi 1, 2, dan 3, maka bentuk tabel I-O yang disajikan adalah seperti ditunjukkan oleh tabel 3.3.  Karena hanya terdapat tiga kegiatan ekonomi dan tiga komoditi, tabel I-O ini disebut juga sebagai tabel I-O berukuran 3x3. 


Tabel 4.2
Tabel Input-Output (Simetrik)
Ukuran 3X3


Secara umum, suatu tabel I-O dirinci menurut banyaknya kegiatan ekonomi atau industri sebanyak n klasifikasi (yaitu banyaknya klasifikasi KLUI, banyaknya kolom) dan banyaknya produk atau komoditi yang dihasilkan sebanyak m klasifikasi (yaitu klasifikasi KBKI, banyaknya baris) disebut sebagai tabel I-O berukuran m x n, karena terdapat n klasifikasi kegiatan ekonomi atau industri (kolom) dan m klasifikasi komoditi atau produk (baris).  Pada kasus m≠n, maka suatu tabel I-O disebut sebagai tabel I-O yang tidak simetrik; sedangkan pada kasus m=n, maka suatu tabel I-O disebut sebagai tabel I-O yang simetrik.  Dengan demikian, tabel I-O pada tabel 3.3 merupakan contoh tabel I-O yang simetrik.




[1]Dikutip dari Miller dan Blair (1985).
[2]Suatu tabel I-O dapat juga terdiri dari empat kuadran, yaitu kuadran I, II, dan III ditambah dengan kuadran IV yang menjelaskan keterkaitan berbagai institusi ekonomi dengan nilai tambah atau input primer.  Tabel I-O Indonesia disusun dengan menggunakan tiga kuadran.
[3]Lihat referensi mengenai kedua klasifikasi pada daftar pustaka.  Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini dijelaskan pada bagian klasifikasi tabel I-O yang disajikan pada bagian berikutnya pada materi kuliah ke- ini.
[4]Lihat kembali materi kuliah ke- 2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Pengeluaran.
[5]Lihat kembali materi kuliah ke- 2 mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Produksi.

TABEL INPUT-OUTPUT: Asumsi-asumsi

#3  Asumsi-asumsi pada Tabel Input-Output

Pada suatu tabel I-O, asumsi utama yang berlaku adalah bahwa output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan produksi merupakan kombinasi linier dari input-input yang digunakan.  Pada suatu tabel I-O, diasumsikan bahwa proporsi input yang digunakan untuk menghasilkan output adalah tetap (fixed).  Oleh karena asumsi ini, suatu tabel I-O disebut juga sebagai suatu model yang statis (static model).

Gambar 3.1 Fungsi Produksi Leontief

Gambar 3.1 menunjukkan suatu kurva linier yang menunjukkan penggunaan input X1 dan X2 yang secara proporsi tetap (fixed) untuk menghasilkan sejumlah output.  Fungsi produksi ini dikenal sebagai fungsi produksi linier Leontief.  Dengan demikian, pada suatu tabel I-O berlaku ketentuan bahwa besarnya porsi input untuk menghasilkan output, yang disebut sebagai koefisien input (input coefficient), adalah sama dengan banyaknya atau besarnya input dibagi dengan besarnya output, atau:


dimana,
aij = koefisien input kegiatan produksi j untuk menghasilkan output dengan menggunakan input i
xij = besarnya input i yang digunakan untuk menghasilkan output j
Xj= besarnya output j yang dihasilkan karena menggunakan input i

Sebagai contoh, dengan menggunakan tabel 3.3, misalkan untuk menghasilkan output X1 sebesar 15.000 satuan moneter dibutuhkan input antara dari kegiatan produksi 2 sebesar 300 satuan moneter, maka koefisien input a21 adalah sama dengan:
               = 300/15.000
= 0,02

Proporsi input ini diasumsikan tetap (fixed); dan hal tersebut berarti bahwa economies of scale dalam proses produksi diabaikan, dan fungsi produksi ini dikenal sebagai suatu fungsi produksi yang bersifat constant returns to scale (CRS), yang menjelaskan bahwa kenaikan output yang dihasilkan adalah proporsional dengan kenaikan input antara yang digunakan[1].

Pada gambar 3.1 juga dapat ditunjukkan mengenai isoquant, yaitu lokasi kedudukan output yang mungkin dihasilkan sebagai akibat menggunakan berbagai kombinasi input X1 dan X2 yang digunakan.  Pada gambar 3.1 tidak terlihat kemungkinan untuk melakukan substitusi penggunaan X1 dan X2 karena penggunaan kedua input tersebut sudah tetap (fixed). Jadi, jika penggunaan input X1 dikurangi, yang tidak dapat disubstitusi oleh input X2, memiliki implikasi turunnya atau berkurangnya output yang dihasilkan

Pada sisi lain, koefisien input yang tetap (fixed) sebagaimana dijelaskan sebelumnya memiliki implikasi secara implisit mengenai keterkaitan antar kegiatan produksi dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu output.  Keterkaitan tersebut ditunjukkan oleh persamaan 3.1 (dengan menggunakan tabel 3.3 sebagai pedoman) yang menjelaskan bahwa untuk menghasilkan output Xj (j=1,2,3) dibutuhkan input-input dari berbagai output yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan produksi lainnya.  Dengan demikian, pada suatu proses produksi untuk menghasilkan suatu output terjadi saling ketergantungan (interlinkages) antar sektor atau kegiatan produksi terutama dalam hal penggunaan input antara (intermediate inputs).
X1 = x11 + x12 + x13 + F1
X2x21 + x22 + x23 + F2  …… (3.1)
X3 = x31 + x32 + x33 + F3

Dengan demikian, secara garis besar, suatu tabel I-O mengikuti asumsi-asumsi sebagai berikut:
  1. Mengikuti asumsi proporsionalitas. Input bagi suatu kegiatan ekonomi merupakan suatu fungsi hubungan linier terhadap tingkat output sektor bersangkutan.  Dengan perkataan lain, jumlah input yang digunakan oleh suatu kegiatan ekonomi akan meningkat atau menurun secara proporsional linier tergantung kepada kenaikan atau penurunan output oleh kegiatan ekonomi yang bersangkutan.
  2. Mengikuti asumsi homogenitas. Masing-masing kegiatan ekonomi dalam tabel I-O hanya menghasilkan satu output dengan mengikuti satu struktur input (proses produksi) tertentu; tidak ada substitusi di antara input atau output dalam kegiatan ekonomi.
  3. Mengikuti asumsi additivitas. Output atau produksi yang dihasilkan oleh suatu kegiatan produksi merupakan efek total dari pelaksanaan berbagai produksi oleh berbagai kegiatan ekonomi secara terpisah.  Dalam hal ini, pengaruh-pengaruh di luar sistem input-output terhadap tingkat produksi kegiatan ekonomi diabaikan.


[1]Lihat buku-buku teks Ekonomimikro yang tersedia mengenai constant returns to scale (CRS). Jika suatu  fungsi produksi bersifat CRS, artinya: perubahan input mengikuti perubahan output secara proporsional. Lihat misalnya Koutsoyiannis (1979).

TABEL INPUT-OUTPUT: Kegunaan dan Manfaat

#2 Kegunaan dan Manfaat Table I-O

Dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan pada bagian sebelumnya, secara khusus suatu tabel I-O disusun untuk menjelaskan analisis keterkaitan antar kegiatan ekonomi dalam menghasilkan output atau produk, yang akan dicakup dalam analisis dampak pengganda (multiplier effect analysis) dan analisis keterkaitan ke ke depan (forward lingkage analysis) dan analisis keterkaitan ke belakang (backward linkage analysis).  Dari analisis-analisis tersebut, suatu analisis yang menjelaskan kegiatan-kegiatan ekonomi yang dominan di suatu negara atau daerah (leading economic activities) dapat juga dilakukan.

Analisis-analisis dengan menggunakan tabel I-O tersebut sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai penunjang perencanaan pembangunan, baik oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah, untuk memberikan suatu rekomendasi dalam menjalankan kebijakan ekonomi, sehingga dengan memperhatikan analisis-analisis tersebut kegiatan-kegiatan ekonomi di suatu negara atau daerah dapat berkembang secara bersama-sama dan pembangunan ekonomi dapat terlaksana dengan baik.

Disamping itu, kegunaan-kegunaan lainnya dari tabel I-O adalah sama dengan analisis yang dapat dilakukan dengan menggunakan data PDB, tetapi dengan dimensi analisis yang lebih luas karena data yang tersedia pada tabel I-O lebih banyak atau lebih luas dari pada data PDB.  

Beberapa tujuan lain yang dapat dicapai dari penggunaan tabel I-O, antara lain, adalah:

a.      Untuk memberikan berbagai analisis ekonomimakro secara deskriptif, seperti analisis kinerja ekonomi (economic performances) suatu negara secara lebih rinci, seperti analisis struktur input, analisis alokasi output, analisis import contents, dan sebagainya,

b.   Analisis dampak (impact analysis), misalnya menjelaskan dampak peningkatan investasi terhadap PDB, menjelaskan peran kegiatan kegiatan ekonomi yang menjadi sektor unggulan dan peranannya  dalam perekonomian, menjelaskan peran kegiatan ekonomi atau komoditas-komoditas unggulan dalam menciptakan pendapatan  dan penciptaan lapangan pekerjaan,

c.   Analisis keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang,

d.   Analisis dengan menggunakan tabel I-O juga dapat menunjukkan kegiatan-kegiatan ekonomi unggulan (leading economic activities) di suatu negara.

Senin, 14 Mei 2018

TABEL INPUT-OUTPUT (Konsep dan Definisi)


Pengertian Mendasar Tabel I-O


Tabel I-O adalah uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar satuan kegiatan ekonomi (sektor) dalam suatu wilayah, pada suatu periode waktu tertentu.
Dalam neraca nasional dan analisis ekonomi, sebenarnya ada 2 jenis tabel I-O, yaitu Supply and Use Table (SUT) dan Symetric Input-Output Table (Tabel I-O bujur sangkar atau Tabel I-O Model Leontief).




Dalam memahami tabel I-O, kita sebelumnya harus sudah menguasai sektor-sektor ekonomi. Sebelum beranjak pada pemahaman lebih lanjut, kita harus memahami dahulu pengertian input dan output dalam konteks ini.


A.      Input

Input adalah nilai (biasanya dalam rupiah) dari semua yang dipergunakan produsen dalam proses produksi.

Ada 3 jenis input :
  1. Input Bruto (Gross Input) : meliputi input primer dan input antara
  2. Input Primer (Primary Input, disebut juga sebagai Nilai Tambah Bruto (NTB)):  terdiri dari balas jasa tenaga kerja, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto.
  3. Input Antara (Intermediate Input) : Input yang dipakai habis dalam proses produksi, terdiri dari barang-barang tidak tahan lama (berumur kurang dari satu tahun)
 B.      Output

Output adalah nilai (biasanya dalam Rupiah) dari hasil proses produksi.

Dari segi proses produksi, output juga terbagi 3 :
  1. Output Utama : Output yang paling banyak dihasilkan (tujuan utama produksi).
  2. Output Ikutan : Output yang dihasilkan bersamaan dengan output utama dengan  menggunakan teknologi yang sama. (misalnya : pabrik beras, output ikutannya adalah dedak)
  3. Output Sampingan : Output yang dihasilkan bersamaan dengan output utama namun menggunakan teknologi yang beda.

Kerangka Tabel I-O

Secara Umum, kerangka tabel I-O adalah sebagai berikut :
Tabel I-O adalah suatu matriks yang dibagi menjadi empat kuadran dengan ordo yang telah tertera di setiap kuadran.


Adapun penjelasan mengenai cakupan tiap kuadran, adalah sebagai berikut :
I.        Kuadran pertama:
  • Menunjukkan arus barang dan jasa yang dihasilkan dan digunakan oleh sektor-sektor tertentu (sebagai input antara) dalam suatu  perekonomian;
  • Menunjukkan distribusi penggunaan barang dan jasa untuk suatu proses produksi;
  • Transaksi yang digambarkan dalam kuadran ini disebut transaksi antara/ permintaan antara.
II.      Kuadran kedua:
  • Menunjukkan permintaan akhir (final demand), yaitu penggunaan barang dan jasa bukan untuk proses produksi.
III.     Kuadran ketiga:
  • Memperlihatkan input primer sektor-sektor produksi.
IV.     Kuadran keempat:
  • Memperlihatkan input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir.
  • SNSE
***