Selasa, 01 April 2014

Indonesia dalam Ancaman Middle Income Trap



KEAJAIBAN INDONESIA
Di tengah himpitan krisis, Indonesia mampu menunjukan kinerja ekonomi yang mantap. Indonesia dianggap mampu mengejar dua kekuatan ekonomi baru, China dan India. Optimisme ini diamini beberapa pengamat ekonomi dunia yang menyatakan bahwa China dan India telah kehilangan momentumnya. Sehingga Indonesia digadang-gadang mampu menyandang “Macan Asia dan masuk ke dalam kekuatan 10 besar ekonomi dunia. McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa pada 2030, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melampaui perkembangan negara-negara maju Eropa. 

Tidak bisa dipungkiri, sejak krisis keuangan Asia, pemulihan investasi dan manufaktur melambat. Tingkat investasi anjlok menjadi 11 persen di tahun 1999, padahal di tahun 1997 mampu membentuk 30 persen PDB. Namun waktu membuktikan kekuatan jumlah penduduk. Kondisi ekonomi dunia yang kalut memaksa konsumen domestik untuk  mengkonsumsi produk domestik. Hal ini dikarenakan pasar internasional tidak mampu menyerap produksi Indonesia.  Dengan demikian produksi masih bisa berjalan, walaupun orientasinya berubah dari pasar ekspor menjadi pasar domestik.
 
Dengan terjaganya ritme industri manufaktur, laju pertumbuhan ekonomi bisa tetap terkontrol. Lihat saja dari grafik disamping, laju pertumbuhan Indonesia cukup stabil setelah berhasil recovery dari hantaman krisis di tahun 1998. Namun nyatanya tidak semua ekonom puas dengan pertumbuhan Indonesia yang sustain ini. Beberapa pengamat mengatakan bahwa pertumbuhan Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang premature dan tidak sehat. Hal ini karena pertumbuhan Indonesia hanya bertopang pada konsumsi domestik yang tinggi. 


Bagai dua sisi mata uang, pandangan tersebut tidak seratus persen benar. Secara nyata memang konsumsi domestik lah yang menjadi penyelamat ekonomi di era ekonomi rapuh seperti sekarang. Konsumsi domestik mampu menggerakkan bursa efek. Terbukti bahwa dalam tiga tahun terakhir, bursa efek secara umum digerakkan oleh saham produk konsumen. Antara 2007 hingga paruh pertama 2012, Dealogic mencatat ada 103 listing baru di bursa efek Indonesia dengan total nilai $11,06 miliar atau Rp 106,4 triliun. Indonesia mengalami pertumbuhan lebih baik dengan mencetak pertumbuhan pasar modal sebesar 20% hingga April 2013. Kapitalisasi pasar yang terjadi di Indonesia diperkirakan melonjak 10 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. 

Jika ditelaah lebih lanjut, kemampuan pasar domestic dalam menyerap produksi  ini disebabkan adanya perkembangan kelas menengah di Indonesia.  Riset menemukan bahwa ada 60 juta orang kelas menengah yang membelanjakan uang antara Rp. 35 ribu hingga Rp. 45 ribu per hari. Riset Insitut McKinsey memperkirakan bahwa tahun 2025 akan ada 135 juta konsumen Indonesia, yang setiap orangnya membelanjakan uang lebih dari Rp 100 ribu per hari. Jika mencapai angka itu, maka jumlah konsumen Indonesia akan lebih tinggi dari kombinasi tiga negara: Singapura, Malaysia dan Australia. Selain itu secara absolute jumlah orang kaya Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Saat ini ada lebih dari 100 ribu orang yang memiliki kekayaaan lebih dari 1 juta dollar. Bahkan di tahun 2017 diperkirakan jumlah orang kaya itu akan naik dua kali lipat menjadi 201 ribu.  Tak heran pabrik besar  mulai melirik Indonesia sebagai lahan investasi. Tahun lalu, Toyota mengumumkan rencana ekspansi senilai 2,7 juta miliar dollar. Sementara L'oreal juga membuka  pabrik terbesarnya di Indonesia.

Keputusan investasi ini tidak hanya didasari peluang pasar domestic yang besar saja, namun juga didukung status layak investasi dari dua lembaga pemerintah, Fitch Rating's pada Desember 2011 dan Moody's pada Januari 2012.

IRONI
Berbangga dengan capaian PDB lebih dari US$ 850 miliar?
Sebuah ironi: laporan Bank Dunia mengungkapkan bahwa satu dari empat orang Indonesia mempunyai penghasilan kurang dari Rp 300 ribu per bulan (di bawah garis kemiskinan). Ya, secara teori memang  peningkatan pendapatan per kapita bisa berujung pada melebarnya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.  Dengan PDB sebesar Rp. 8.241,9 triliun di tahun 2012, boleh dikatakan Indonesia adalah negara dengan ekonomi terkuat. Sayangnya masih ada ganjalan bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sampai saat ini investor masih lebih memilih berinvestasi di Singapura dan Malaysia daripada di Indonesia. Di pasar ekuitas, kapitalisasi Indonesia masih kecil. Sedangkan secara fisik, investasi di Indonesia tersandung buruknya infrastruktur. Hal ini berpengaruh negatif  pada efisiensi produksi. Belum lagi diperburuk dengan persepsi masyarakat internasional pada pola korupsi di Indonesia. Tahun 2012 Indeks Persepsi Korupsi (IPK)  Indonesia melorot ke peringkat 118 dunia, dari posisi 111 pada tiga tahun sebelumnya.

Tahukah Anda, ternyata salah satu penyumbat PDB dalam selang ekonomi adalah SUBSIDI BBM. Banyak data yang membuktikan bahwa subsidi BBM Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Walaupun sudah ada upaya mengurangi beban subsidi, agaknya pemerintah masih belum berhasil meyakinkan investor. Diduga hal ini lah yang menjadi biang keladi perlambatan ekonomi Indonesia hingga pada 2012 hanya tumbuh 6,23%.

TERJEBAK
Kalangan pengamat ekonomi  mengatakan bahwa Indonesia berpotensi masuk ke dalam middle income trap. Sesuai standard Bank Dunia, negara yang diklasifikasikan sebagai berpendapatan rendah ketika PDB/kapita < US$ 1.005, menengah-bawah antara US$ 1.006-US$ 3.975, menengah-atas antara US$ 3.976- US$ 12.275, dan tinggi > US$ 12.275. Walaupun sudah menjadi middle income country  tidak mudah bagi Indonesia untuk move on. Indonesia sendiri sudah sempat ‘jatuh’ lagi menjadi low income country, karena sebenarnya  Indonesia sudah masuk ke dalam golongan middle income country di tahun 1993, namun tumbang setelah krisis di tahun 1998. Dan kembali menjadi middle income country  di tahun 2003. 

Tahukah anda bahwa sektor utama ekonomi Indonesia adalah industri manufaktur? Sektor ini berkontribusi sebesar 23,97 persen bagi pembentukan PDB. Walau sempat terpuruk pada saat krisis ekonomi 1998, pertumbuhan industri manufaktur mampu bangkit kembali. Di tahun 2011, pertumbuhan industri pengolahan non-migas tercatat 6,83% melampaui pertumbuhan PDB nasional sebesar 6,46%. Pada 2011, nilai ekspor industri non-migas berjumlah US$ 122,18 miliar atau 60 % dari total ekspor nasional. Data juga menunjukan peningkatan impor yang signifikan. Meningkatnya impor barang modal dan bahan baku penolong merupakan salah satu indikasi bergeliatnya industri dalam negeri khususnya sektor manufaktur, yang juga mengindikasikan meningkatnya aktivitas investasi. 


Hanya saja, kegiatan ekspor impor ini perlu dicermati, karena berkaitan dengan neraca perdagangan dan tentu saja berkaitan dengan kebutuhan valas. Ini menjadi sangat fragile, karena (seperti kita sadari) nilai tukar IDR yang sangat lemah terhadap USD. Dan ternyata sumber terbesar defisit  neraca perdagangan  adalah impor migas. Impor migas mendorong kebutuhan valas yang mencapai rata-rata US$18 miliar per tahun, sementara devisa hasil ekspor belum dapat menutupi kebutuhan valas tersebut, yang menghasilkan surplus rata-rata US$15,6 miliar. Bagaikan simalakama, nilai tambah industri angkutan versus produk angkutan yang membabat valas.
 
Kondisi inilah yang memberikan indikasi dini bahwa jika Indonesia tidak merubah kebijakan ekonomi maka Indonesia akan stuck, trapped  sebagai negara kelas menengah. Indonesia tidak akan mampu berlari mengejar dan ‘naik kelas’ menjadi high income country

Kapankah itu terjadi? Saat rasio investasi semakin kecil, saat pertumbuhan industri manufaktur melambat, diversifikasi industri terbatas, pasar kerja yang buruk, upah yang semakin tinggi, pendidikan stagnan, inovasi dan teknologi tidak berkembang. Disaat semua itu terjadi  produsen tidak mampu bersaing di pasar ekspor. Konsumsi domestik jenuh dan tidak mampu menyerap produksi.

STRATEGI
Walaupun sektor padat modal memiliki multiplyer effect yang lebih besar terhadap perekonomian, namun perluasan kesempatan kerja lewat padat karya juga perlu dibangun.  Salah satunya adalah investasi sosial di bidang pendidikan. Disaat yang bersamaan pertumbuhan inklusif dan hijau harus menjadi pertimbangan mendasar. Dan tentu saja peningkatan infrastruktur guna mendukung efisiensi proses produksi dan teraksesnya pembangunan oleh masyarakat.

Walaupun jumlah penduduk Indonesia besar,  dan kelas berpenghasilan menengah pun membesar, perlu mencari pasar baru untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor. Adapun konsekuensi dari tumbuhnya kelas menengah adalah  peningkatan daya beli yang menuntut peningkatan kualitas. Jika tidak masyarakat akan melirik  produk impor. Dampaknya produksi domestik tidak akan terserap, laju pertumbuhan melambat, kebutuhan valas meningkat, nilai tukar melemah, hingga akhirnya ekonomi pun collaps.


Kesimpulannyakebutuhan valas  yang tinggi  saat ini sudah menunjukkan indikasi bahwa Indonesia sudah terjebak dalam middle-income trap. Karena yang terjadi adalah aktivitas consumption without domestic production yang tidak menghasilkan penerimaan negara (income) melainkan tambahan utang terus menerus sepanjang tahun, untuk menutup defisit APBN.

Small act make different
Jika Anda mengaku pro growth, maka


: “CINTAILAH PRODUK_PRODUK DALAM NEGERI!”



Minggu, 06 Oktober 2013

Hubungan Berbanding Terbalik Antara Dollar Amerika Serikat dengan Harga Emas

Sebuah teori mengatakan, ketika harga dollar naik, harga emas akan turun, begitupun sebaliknya.
Sehingga hubungan antara dollar AS dengan emas dunia adalah berbanding terbalik.

Pada dasarnya alasan dari teori ini adalah hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi.
--Supply VS Demand--
1.      Ketika penawaran emas tetap, permintaan berkurang, maka harga emas akan turun
2.      Ketika penawaran emas naik, permintaan tetap, maka harga emas akan turun
3.      Ketika penawaran emas turun, permintaan tetap atau naik, maka harga emas akan naik
4.      Ketika penawaran emas tetap, permintaan bertambah, maka harga emas akan naik

Faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran emas, terutama yang berkaitan dengan dollar AS:
1.      Perubahan kurs.
Melemahnya nilai tukar dollar AS bisa menjadi pendorong naiknya harga emas. Ilustrasi paling sederhana untuk pernyataan diatas adalah: ketika dollar melemah, maka banyak orang yang akan membeli emas untuk mengamankan uangnya. Sehingga permintaan akan emas akan meningkat.
2.      Perubahan suku bunga bank
Saat suku bunga naik, maka akan terjadi tekanan besar pada emas, karena orang akan menyimpan uangnya dalam bentuk deposito. Sebaliknya ketika suku bunga turun, maka orang akan mengalihkan tabungannya menjadi emas.
Adapun naik atau turunnya suku bunga ini bisa jadi dipengaruhi oleh perubahan nilai kurs terhadap dollar. Ketika rupiah melemah, maka BI akan menaikkan suku bunga untuk menahan laju kurs dollar AS. Secara langsung maupun tidak langsung permintaan akan emas akan berkurang, harga emas pun akan turun.
3.      Pertumbuhan Ekonomi
(disclaimer) Diperkirakan sekitar 80 persen emas dikonsumsi oleh industri perhiasan. Permintaan pasar untuk perhiasan biasanya akan meningkat di saat kondisi ekonomi yang sedang meningkat. Namun premis ini tidak berarti bahwa pengaruh peningkatan ekonomi sama besar dengan pengaruh perubahan harga emas.  Data statistic menunjukkan bahwa permintaan perhiasan emas lebih sensitif terhadap perubahan harga emas daripada peningkatan kondisi perekonomian.  
4.      Tingginya Tingkat Inflasi
     Hampir semua negara memperhitungkan tingkat inflasi dalam kebijakan ekonominya. Asumsi tersebut digunakan untuk menetapkan kebijakan moneter seperti tingkat suku bunga, dan lain sebagainya. Jika asumsi bank sentral gagal, atau inflasi yang terjadi lebih besar daripada yang diprediksi, maka harga emas akan melonjak! Kondisi ini mengindikasikan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Disaat seperti ini, emas biasanya menjadi buruan orang untuk menyelamatkan asset dan investasinya.
5.      Kelangkaan Emas
Penawaran emas sangat dipengaruhi besarnya produksi emas. Jika produksi emas menurun karena factor-faktor tertentu, misalnya tambang emas yang meledak, tutupnya tambang-tambang emas karena masalah perizinan atau demo, dsb, maka akan terjadi kelangkaan. Jika hal tersebut terjadi, erutama saat permintaan emas meningkat, maka hal ini akan menimbulkan kepanikan. Di saat panic seperti ini banyak yang membeli emas secara membabi buta dan harga emaspun akan meroket sampai ke bulan. India dan Cina adalah Negara yang yang memilih untuk menghabiskan uang mereka dalam investasi emas.
6.      Kondisi politik-ekonomi dunia
Tidak bisa kita pungkiri bahwa ketidakpastian politik dunia  sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Selain ekonomi, Amerika Serikat juga memiliki peran besar dalam politik dunia.
Dalam ekonomi, dollar AS dijadikan mata uang jangkar, menjadikannya sebagai mata uang standar karena dianggap relative stabil dibandingkan mata uang manapun di dunia. Karena alasan inilah maka banyak yang berinvestasi ke dalam dollar, akibatnya permintaan akan dollar meningkat. Saat ekonomi AS goncang, maka investasi ke dalam dollar AS akan dialihkan ke dalam bentuk lain. Sejauh ini investasi yang dianggap relative paling aman adalah emas. Dengan demikian saat dollar AS melemah, permintaan emaspun akan meningkat. Akibatnya harga emas akan melambung.
Dalam politik, AS dikenal sebagai “Polisi Dunia”. AS memegang ‘hak veto’ dengan daya yang luar biasa. Dalam posisinya sebagai  pemegang tampuk hegemoni dunia, AS seakan menjadi sutradara politik dunia. Semua tindak tanduk AS bisa berpengaruh pada politik dan ekonomi dunia. Walaupun sehebat itu AS kadang tidak bisa berbuat apapun saat negaranya goncang. Ndilalahnya AS seringkali mengajak seluruh dunia bergoncang bersamanya. Di saat orang hilang kepercayaan pada AS, maka  mereka akan berinvestasi pada emas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian. Banyak investor yang menarik investasinya dalam bursa saham, forex, dan obligasi dan beralih pada emas yang dianggap lebih aman.
7.      Terjadinya Kepanikan Finansial
Krisis moneter yang melanda Indonesia di tahun 1998 dan 2008 adalah salah satu contoh kepanikan finansial. Kepanikan finasial itu membuat masyarakat resah akan sarana investasi mereka, yang seketika dapat anjlok. Namun kepanikan finansial justru membuat emas membumbung tinggi, permintaan emas yang tinggi membuat harga emas jauh di awang-awang. Kepanikan finansial ini tidak saja terjadi di Indonesia, bahkan dunia pun pernah dan sedang mengalaminya.
8.      Harga Minyak Dunia Mendongkrak Emas
Kenaikan minyak dunia secara otomatis berpengaruh pada kenaikan harga emas. Saat AS menyerang negara-negara penghasil minyak, maka emas pun akan melonjak. Selain menyulut ketidakstabilan politik, serangan tersebut berdampak pada persediaan minyak dunia. Secara lebih jauh hal ini berdampak luas pada perekonomian. Dan sekali lagi, emas akan dijadikan pelarian untuk mengamankan nilai kekayaan mereka. Walhasil emaspun melambung tinggi.
Demikian faktor-faktor yang bisa menjelaskan hubungan antara dollar AS dan harga emas. Agaknya (mungkin) masih ada faktor lain yang belum saya sebutkan. Hmmm, saya masih terbuka dengan masukan.
Tell me more!

Semoga bermanfaat!
Marisa Wajdi!!!

Jumat, 27 September 2013

Berbedakah Pasar Modal, Bursa Efek dan Bursa Saham?



KEAJAIBAN INDONESIA
Di tengah himpitan krisis, Indonesia mampu menunjukan kinerja ekonomi yang mantap. Indonesia dianggap mampu mengejar dua kekuatan ekonomi baru, China dan India. Optimisme ini diamini beberapa pengamat ekonomi dunia yang menyatakan bahwa China dan India telah kehilangan momentumnya. Sehingga Indonesia digadang-gadang mampu menyandang “Macan Asia dan masuk ke dalam kekuatan 10 besar ekonomi dunia. McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa pada 2030, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melampaui perkembangan negara-negara maju Eropa. 

Tidak bisa dipungkiri, sejak krisis keuangan Asia, pemulihan investasi dan manufaktur melambat. Tingkat investasi anjlok menjadi 11 persen di tahun 1999, padahal di tahun 1997 mampu membentuk 30 persen PDB. Namun waktu membuktikan kekuatan jumlah penduduk. Kondisi ekonomi dunia yang kalut memaksa konsumen domestik untuk  mengkonsumsi produk domestik. Hal ini dikarenakan pasar internasional tidak mampu menyerap produksi Indonesia.  Dengan demikian produksi masih bisa berjalan, walaupun orientasinya berubah dari pasar ekspor menjadi pasar domestik.
 
Dengan terjaganya ritme industri manufaktur, laju pertumbuhan ekonomi bisa tetap terkontrol. Lihat saja dari grafik disamping, laju pertumbuhan Indonesia cukup stabil setelah berhasil recovery dari hantaman krisis di tahun 1998. Namun nyatanya tidak semua ekonom puas dengan pertumbuhan Indonesia yang sustain ini. Beberapa pengamat mengatakan bahwa pertumbuhan Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang premature dan tidak sehat. Hal ini karena pertumbuhan Indonesia hanya bertopang pada konsumsi domestik yang tinggi. 


Bagai dua sisi mata uang, pandangan tersebut tidak seratus persen benar. Secara nyata memang konsumsi domestik lah yang menjadi penyelamat ekonomi di era ekonomi rapuh seperti sekarang. Konsumsi domestik mampu menggerakkan bursa efek. Terbukti bahwa dalam tiga tahun terakhir, bursa efek secara umum digerakkan oleh saham produk konsumen. Antara 2007 hingga paruh pertama 2012, Dealogic mencatat ada 103 listing baru di bursa efek Indonesia dengan total nilai $11,06 miliar atau Rp 106,4 triliun. Indonesia mengalami pertumbuhan lebih baik dengan mencetak pertumbuhan pasar modal sebesar 20% hingga April 2013. Kapitalisasi pasar yang terjadi di Indonesia diperkirakan melonjak 10 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. 

Jika ditelaah lebih lanjut, kemampuan pasar domestic dalam menyerap produksi  ini disebabkan adanya perkembangan kelas menengah di Indonesia.  Riset menemukan bahwa ada 60 juta orang kelas menengah yang membelanjakan uang antara Rp. 35 ribu hingga Rp. 45 ribu per hari. Riset Insitut McKinsey memperkirakan bahwa tahun 2025 akan ada 135 juta konsumen Indonesia, yang setiap orangnya membelanjakan uang lebih dari Rp 100 ribu per hari. Jika mencapai angka itu, maka jumlah konsumen Indonesia akan lebih tinggi dari kombinasi tiga negara: Singapura, Malaysia dan Australia. Selain itu secara absolute jumlah orang kaya Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Saat ini ada lebih dari 100 ribu orang yang memiliki kekayaaan lebih dari 1 juta dollar. Bahkan di tahun 2017 diperkirakan jumlah orang kaya itu akan naik dua kali lipat menjadi 201 ribu.  Tak heran pabrik besar  mulai melirik Indonesia sebagai lahan investasi. Tahun lalu, Toyota mengumumkan rencana ekspansi senilai 2,7 juta miliar dollar. Sementara L'oreal juga membuka  pabrik terbesarnya di Indonesia.

Keputusan investasi ini tidak hanya didasari peluang pasar domestic yang besar saja, namun juga didukung status layak investasi dari dua lembaga pemerintah, Fitch Rating's pada Desember 2011 dan Moody's pada Januari 2012.

IRONI
Berbangga dengan capaian PDB lebih dari US$ 850 miliar?
Sebuah ironi: laporan Bank Dunia mengungkapkan bahwa satu dari empat orang Indonesia mempunyai penghasilan kurang dari Rp 300 ribu per bulan (di bawah garis kemiskinan). Ya, secara teori memang  peningkatan pendapatan per kapita bisa berujung pada melebarnya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.  Dengan PDB sebesar Rp. 8.241,9 triliun di tahun 2012, boleh dikatakan Indonesia adalah negara dengan ekonomi terkuat. Sayangnya masih ada ganjalan bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sampai saat ini investor masih lebih memilih berinvestasi di Singapura dan Malaysia daripada di Indonesia. Di pasar ekuitas, kapitalisasi Indonesia masih kecil. Sedangkan secara fisik, investasi di Indonesia tersandung buruknya infrastruktur. Hal ini berpengaruh negatif  pada efisiensi produksi. Belum lagi diperburuk dengan persepsi masyarakat internasional pada pola korupsi di Indonesia. Tahun 2012 Indeks Persepsi Korupsi (IPK)  Indonesia melorot ke peringkat 118 dunia, dari posisi 111 pada tiga tahun sebelumnya.

Tahukah Anda, ternyata salah satu penyumbat PDB dalam selang ekonomi adalah SUBSIDI BBM. Banyak data yang membuktikan bahwa subsidi BBM Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Walaupun sudah ada upaya mengurangi beban subsidi, agaknya pemerintah masih belum berhasil meyakinkan investor. Diduga hal ini lah yang menjadi biang keladi perlambatan ekonomi Indonesia hingga pada 2012 hanya tumbuh 6,23%.

TERJEBAK
Kalangan pengamat ekonomi  mengatakan bahwa Indonesia berpotensi masuk ke dalam middle income trap. Sesuai standard Bank Dunia, negara yang diklasifikasikan sebagai berpendapatan rendah ketika PDB/kapita < US$ 1.005, menengah-bawah antara US$ 1.006-US$ 3.975, menengah-atas antara US$ 3.976- US$ 12.275, dan tinggi > US$ 12.275. Walaupun sudah menjadi middle income country  tidak mudah bagi Indonesia untuk move on. Indonesia sendiri sudah sempat ‘jatuh’ lagi menjadi low income country, karena sebenarnya  Indonesia sudah masuk ke dalam golongan middle income country di tahun 1993, namun tumbang setelah krisis di tahun 1998. Dan kembali menjadi middle income country  di tahun 2003. 

Tahukah anda bahwa sektor utama ekonomi Indonesia adalah industri manufaktur? Sektor ini berkontribusi sebesar 23,97 persen bagi pembentukan PDB. Walau sempat terpuruk pada saat krisis ekonomi 1998, pertumbuhan industri manufaktur mampu bangkit kembali. Di tahun 2011, pertumbuhan industri pengolahan non-migas tercatat 6,83% melampaui pertumbuhan PDB nasional sebesar 6,46%. Pada 2011, nilai ekspor industri non-migas berjumlah US$ 122,18 miliar atau 60 % dari total ekspor nasional. Data juga menunjukan peningkatan impor yang signifikan. Meningkatnya impor barang modal dan bahan baku penolong merupakan salah satu indikasi bergeliatnya industri dalam negeri khususnya sektor manufaktur, yang juga mengindikasikan meningkatnya aktivitas investasi. 


Hanya saja, kegiatan ekspor impor ini perlu dicermati, karena berkaitan dengan neraca perdagangan dan tentu saja berkaitan dengan kebutuhan valas. Ini menjadi sangat fragile, karena (seperti kita sadari) nilai tukar IDR yang sangat lemah terhadap USD. Dan ternyata sumber terbesar defisit  neraca perdagangan  adalah impor migas. Impor migas mendorong kebutuhan valas yang mencapai rata-rata US$18 miliar per tahun, sementara devisa hasil ekspor belum dapat menutupi kebutuhan valas tersebut, yang menghasilkan surplus rata-rata US$15,6 miliar. Bagaikan simalakama, nilai tambah industri angkutan versus produk angkutan yang membabat valas.
 
Kondisi inilah yang memberikan indikasi dini bahwa jika Indonesia tidak merubah kebijakan ekonomi maka Indonesia akan stuck, trapped  sebagai negara kelas menengah. Indonesia tidak akan mampu berlari mengejar dan ‘naik kelas’ menjadi high income country

Kapankah itu terjadi? Saat rasio investasi semakin kecil, saat pertumbuhan industri manufaktur melambat, diversifikasi industri terbatas, pasar kerja yang buruk, upah yang semakin tinggi, pendidikan stagnan, inovasi dan teknologi tidak berkembang. Disaat semua itu terjadi  produsen tidak mampu bersaing di pasar ekspor. Konsumsi domestik jenuh dan tidak mampu menyerap produksi.

STRATEGI
Walaupun sektor padat modal memiliki multiplyer effect yang lebih besar terhadap perekonomian, namun perluasan kesempatan kerja lewat padat karya juga perlu dibangun.  Salah satunya adalah investasi sosial di bidang pendidikan. Disaat yang bersamaan pertumbuhan inklusif dan hijau harus menjadi pertimbangan mendasar. Dan tentu saja peningkatan infrastruktur guna mendukung efisiensi proses produksi dan teraksesnya pembangunan oleh masyarakat.

Walaupun jumlah penduduk Indonesia besar,  dan kelas berpenghasilan menengah pun membesar, perlu mencari pasar baru untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor. Adapun konsekuensi dari tumbuhnya kelas menengah adalah  peningkatan daya beli yang menuntut peningkatan kualitas. Jika tidak masyarakat akan melirik  produk impor. Dampaknya produksi domestik tidak akan terserap, laju pertumbuhan melambat, kebutuhan valas meningkat, nilai tukar melemah, hingga akhirnya ekonomi pun collaps.


Kesimpulannyakebutuhan valas  yang tinggi  saat ini sudah menunjukkan indikasi bahwa Indonesia sudah terjebak dalam middle-income trap. Karena yang terjadi adalah aktivitas consumption without domestik production yang tidak menghasilkan penerimaan negara (income) melainkan tambahan utang terus menerus sepanjang tahun, untuk menutup defisit APBN.

Small act make different
Jika Anda mengaku pro growth, maka


: “CINTAILAH PRODUK_PRODUK DALAM NEGERI!”